WONOSARI—Wakil Ketua DPRD Gunungkidul dari Fraksi Partai Golkar, Drs. Marsiono, menilai Pemilu yang digelar pada 17 April 2019 akan memicu dua dinamika sekaligus di kalangan partai politik peserta pemilu, yakni kompetisi di internal partai dan pertarungan di tingkat antarpartai.
Pernyataan itu disampaikan Marsiono di Gedung DPRD Gunungkidul pada Rabu (5/9/2018). Ia menyebut telah bertekad untuk berkompetisi dan bertarung memperebutkan satu dari 11 kursi yang tersedia di Daerah Pemilihan (Dapil) 7 Gunungkidul.
Marsiono merujuk pada jadwal dan tahapan pemilu, di mana pada Kamis, 20 September 2018, daftar calon sementara (DCS) ditetapkan menjadi daftar calon tetap (DCT) oleh KPU. Ia menambahkan, tiga hari setelah penetapan tersebut, kampanye dijadwalkan dimulai pada Minggu, 23 September 2018.
Menurut Marsiono, kompetisi di internal partai tidak dapat dihindari. Ketua DPD Golkar Gunungkidul, kata dia, mengajukan 10 calon legislatif untuk maju ke DPRD DIY, dengan dua di antaranya merupakan petahana, yakni Hj. Rany Widayati, SE, MM dan Slamet S.Pd., MM.
Ia menegaskan persaingan di internal Golkar akan dijalankan secara fair dan sehat tanpa saling menjatuhkan. Namun, di sisi lain, ia menilai pertarungan antarpartai juga akan berlangsung ketat karena petahana dari tujuh partai besar masih berupaya merebut kursi DPRD DIY.
Dalam pemetaannya, Marsiono menyebut beberapa nama yang dinilai menjadi rival berat. Dari PDIP, ia mencatat Nuryadi serta Bambang Chrisnadi. Dari Partai Gerindra, ia menyebut Bowo Gaplek serta Drs. Sutata yang disebutnya berpindah dari PAN.
“Golkar siap berkompetisi, juga siap bertarung,” kata Marsiono.