Konflik geopolitik berulang kali terbukti menimbulkan dampak luas bagi masyarakat dunia. Perseteruan yang bermula dari sejumlah negara atau kawasan dapat memicu gangguan ekonomi global, terutama melalui lonjakan harga energi yang kemudian mendorong inflasi di berbagai negara.
Energi menjadi salah satu komoditas yang paling rentan terdampak gejolak sosial dan politik internasional. Tingginya ketergantungan pada energi fosil serta keterbatasan sumber daya yang terkonsentrasi di negara-negara tertentu membuat pasokan energi mudah terganggu. Kondisi ini memberi negara pemilik cadangan energi fosil besar posisi tawar kuat yang dapat berkembang menjadi kekuatan geopolitik.
Energi, geopolitik, dan efek domino ekonomi
Secara umum, geopolitik merujuk pada hubungan antara politik dan berbagai fenomena yang terjadi dalam suatu wilayah, baik pada skala lokal maupun internasional. Dalam konteks energi, negara dengan sumber daya energi fosil besar berpotensi memengaruhi situasi negara lain, termasuk ketika terjadi konflik politik di dalam negeri mereka. Dampaknya dapat merembet ke pasar energi global, mengerek harga, dan menekan perekonomian negara-negara importir.
Tiga peristiwa besar yang mendorong lonjakan harga minyak
Berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy 2022, terdapat setidaknya tiga peristiwa geopolitik setelah tahun 1900 yang berkaitan dengan lonjakan harga minyak dunia.
-
Perang Yom Kippur (1973)
Perang yang melibatkan Mesir dan Suriah melawan Israel memicu respons negara-negara pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC. Saat itu, OPEC memotong produksi dan menerapkan embargo terhadap sejumlah negara pendukung Israel. Dampaknya, harga minyak global naik dari kurang dari 5 dollar AS per barel menjadi lebih dari 10 dollar AS per barel. Negara-negara importir minyak yang tidak terlibat konflik ikut merasakan efeknya, salah satunya lonjakan inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi.
-
Revolusi Iran (sekitar 1978)
Pergolakan internal Iran yang mengubah sistem monarki menjadi Republik Islam memicu ketegangan politik dan konflik horizontal. Situasi ini turut memengaruhi kawasan Timur Tengah yang merupakan produsen minyak utama dunia. Sejumlah negara di kawasan tersebut terbelah, ada yang mendukung revolusi dan ada yang mempertahankan model kerajaan. Ketegangan itu mendorong pembentukan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) pada 1981 yang beranggotakan Oman, Bahrain, UEA, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait sebagai upaya membendung pengaruh Revolusi Iran. Dalam periode ini, harga minyak naik dari sekitar 15 dollar AS per barel menjadi sekitar 38 dollar AS per barel.
-
Musim Semi Arab (2011)
Gelombang protes yang menuntut perbaikan taraf hidup, pemberantasan korupsi, dan perubahan struktur politik yang lebih demokratis muncul di sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, termasuk Tunisia, Mesir, Aljazair, Jordania, Irak, dan Suriah. Kemelut di kawasan penghasil minyak ini mendorong harga minyak melonjak hingga hampir 130 dollar AS per barel, yang disebut sebagai salah satu level tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini menempatkan sejumlah negara, terutama importir energi skala besar, dalam bayang-bayang resesi.
Perang Rusia-Ukraina dan tekanan baru pada pasar energi
Setelah sekitar satu dekade pasca-Musim Semi Arab, konflik geopolitik kembali mengemuka melalui perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada Februari 2022. Konflik ini turut melibatkan keberpihakan NATO dan negara-negara sekutu Amerika Serikat yang mendukung Ukraina, disertai kebijakan seperti embargo ekonomi, pembatasan impor energi, serta penarikan atau penghentian operasi sejumlah industri negara-negara sekutu di Rusia.
Di sisi lain, Rusia sebagai salah satu produsen energi terbesar dunia memanfaatkan strategi politik energinya. Sejumlah negara Eropa selama ini bergantung pada pasokan gas alam (LNG) dari Rusia. Disebutkan, Belgia, Perancis, Spanyol, Inggris, dan negara Eropa lainnya menerima pasokan sekitar 17,4 miliar meter kubik per tahun. Ketergantungan ini menjadi bagian dari ruang diplomasi, meski perundingan disebut masih menemui jalan buntu.
Meski embargo ekonomi dan energi diterapkan, invasi Rusia ke Ukraina berlanjut. Pasokan energi Rusia yang tidak terserap pasar Eropa dialihkan dan dijual dengan harga di bawah harga pasar dunia untuk mengoptimalkan produksi domestik sekaligus mendorong stabilisasi pasar energi global.
Dampak ekonomi: harga minyak, pangan, dan beban subsidi
Salah satu dampak terberat perang Rusia-Ukraina adalah lonjakan harga minyak yang sempat menembus di atas 120 dollar AS per barel pada Maret 2022. Kenaikan harga minyak ikut mendorong kenaikan harga pangan global karena biaya pengangkutan meningkat.
Kelompok yang paling terdampak adalah negara berkembang berpendapatan rendah dan masyarakat berpenghasilan kecil. Sejumlah pemerintah kemudian mengalokasikan anggaran subsidi energi yang lebih besar untuk menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi.
Upaya stabilisasi dan pergerakan harga minyak
Berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasokan energi terus dilakukan, termasuk mendorong negara-negara produsen minyak dalam OPEC meningkatkan pasokan agar ketimpangan akibat pembatasan suplai dari Rusia ke sebagian negara Eropa dapat ditutup oleh produsen lain.
Harga minyak dunia dilaporkan berangsur turun. Pada 31 Januari 2023, harga minyak jenis WTI berada di sekitar 77 dollar AS per barel, sedikit lebih rendah dibandingkan titik tertinggi selama Januari 2023 yang berkisar 81 dollar AS per barel. Jika perang Rusia-Ukraina semakin terkendali, penurunan harga energi dinilai berpeluang berlanjut.
Perdamaian sebagai kunci meredakan gejolak
Upaya menciptakan perdamaian Rusia dan Ukraina dipandang penting karena dampak konflik dapat berlangsung panjang. Dalam peristiwa Yom Kippur, Revolusi Iran, dan Musim Semi Arab, harga energi disebut memerlukan waktu lebih dari lima tahun untuk kembali mendekati level sebelum konflik. Tanpa penyelesaian, perekonomian global berisiko terus bergejolak.

