Klaim Bantuan Langsung Australia untuk Umat Kristen Indonesia Rp 150 Juta–Rp 4,5 Miliar Disebut Hoaks

Klaim Bantuan Langsung Australia untuk Umat Kristen Indonesia Rp 150 Juta–Rp 4,5 Miliar Disebut Hoaks

Klaim mengenai penyaluran Direct Aid Program (DAP) atau program bantuan langsung dari Pemerintah Australia untuk umat Kristen Indonesia dengan nilai Rp 150 juta hingga Rp 4,5 miliar beredar di media sosial pada awal Juli 2026. Narasi tersebut menyebut bantuan disalurkan melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Kristen, Kementerian Agama.

Namun, hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com menyimpulkan informasi itu tidak benar dan merupakan modus penipuan. Sejumlah unggahan di Facebook menyebarkan klaim bahwa Ditjen Bimas Kristen bersama Kementerian Agama telah menyalurkan dana bantuan DAP dari Australia untuk periode 2025–2026, yang disebut ditujukan menunjang operasional masyarakat non-Muslim dan gereja, termasuk pengembangan serta manajemen administrasi operasional di berbagai wilayah Indonesia.

Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama menyatakan tidak pernah mengeluarkan pengumuman bantuan dari Australia. Dalam keterangan di laman resmi, Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung mengatakan pihaknya menerima banyak laporan terkait penyebaran informasi palsu bantuan dana DAP dari Australia yang mengatasnamakan Ditjen Bimas Kristen. Pernyataan tersebut disampaikan pada 26 Januari 2026.

Penelusuran juga menemukan bahwa narasi hoaks serupa telah berulang kali beredar, termasuk dengan mencatut nama pendeta Norman Ambarita. Dalam konten yang beredar, wajah dan suara pendeta tersebut digunakan dalam video rekayasa berbasis artificial intelligence (AI) atau deepfake. Pemeriksaan menggunakan Hive Moderation mendeteksi klip video itu memiliki probabilitas 71,1 persen sebagai deepfake, sementara suaranya terdeteksi 98,9 persen dihasilkan AI.

Dengan demikian, klaim bahwa Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama menyalurkan dana bantuan DAP Australia untuk umat Kristen di Indonesia pada awal Juli 2026 dinyatakan hoaks. Ditjen Bimas Kristen menegaskan tidak pernah mengumumkan bantuan tersebut, dan materi video yang beredar terindikasi hasil rekayasa.