Investasi Asing Industri Alas Kaki di Boyolali Capai 60 Persen Konstruksi, Proyek di Klaten Direlokasi karena Tata Ruang

Investasi Asing Industri Alas Kaki di Boyolali Capai 60 Persen Konstruksi, Proyek di Klaten Direlokasi karena Tata Ruang

SEMARANG — Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor industri alas kaki di Jawa Tengah berlanjut. Proyek investasi di Kabupaten Boyolali kini telah memasuki tahap konstruksi, sementara rencana investasi di Kabupaten Klaten dipastikan tetap berada di Jawa Tengah meski lokasi awalnya harus direlokasi.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyampaikan bahwa progres konstruksi proyek PMA industri alas kaki di Boyolali telah mencapai sekitar 60 persen. Ia mengatakan kawasan proyek tersebut sudah masuk dalam Kawasan Peruntukan Industri (KPI).

Nilai investasi proyek di Boyolali diperkirakan mendekati Rp1 triliun. Realisasi investasi dilakukan bertahap, mulai dari pembelian lahan, pembangunan konstruksi, hingga pemasangan fasilitas produksi.

Adapun rencana investasi industri alas kaki di Kabupaten Klaten mengalami pergeseran lokasi karena tidak sesuai dengan tata ruang wilayah. Sakina menjelaskan, lokasi yang diminati investor berada di Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD), sehingga relokasi dilakukan untuk menghindari penggunaan lahan sawah dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi.

Meski demikian, Sakina menegaskan investor tetap memilih berinvestasi di Jawa Tengah. Investor disebut telah berkoordinasi dengan DPMPTSP Jawa Tengah untuk mencari alternatif lokasi baru di kawasan industri yang sesuai dengan KPI.

Menurut Sakina, kebijakan tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan industri dan perlindungan lahan pertanian. Ia juga memastikan iklim investasi di Jawa Tengah tetap kondusif dan berkelanjutan.

Sakina menambahkan, industri alas kaki masih mendominasi serapan tenaga kerja, terutama di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah yang didukung akses jalan tol. Pada realisasi investasi tahun 2025, industri alas kaki tercatat berada di peringkat pertama dengan nilai investasi mencapai Rp11,18 triliun atau sekitar 21,9 persen.

Ia menyebut ekosistem industri alas kaki di Jawa Tengah dinilai lengkap, mulai dari produksi sol, tali, aksesori, hingga perakitan sepatu. Di sisi lain, investor juga mulai melirik sektor padat modal dan berbasis teknologi seperti industri baterai listrik dan energi terbarukan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menilai perpaduan industri padat karya dan padat modal penting untuk membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi daerah.