Indonesia dan Swiss Lanjutkan Program RESD Fase II untuk Perkuat SDM Energi Terbarukan

Indonesia dan Swiss Lanjutkan Program RESD Fase II untuk Perkuat SDM Energi Terbarukan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase II sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor energi baru terbarukan. Program ini diposisikan untuk mendukung transisi energi nasional serta target Net Zero Emission (NZE) 2060.

RESD Fase II merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss yang berfokus pada penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi bidang energi terbarukan agar selaras dengan kebutuhan industri. Program ini disebut menjadi instrumen strategis Kementerian ESDM dalam menyiapkan tenaga kerja yang terampil, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi energi bersih.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ESDM, Prahoro Nurtjahyo, menyatakan keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kesiapan SDM yang berkelanjutan. “Melalui RESD Fase II, kita membangun ekosistem pengembangan SDM dan kolaborasi yang menyelaraskan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan talenta energi terbarukan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap memimpin perubahan,” ujarnya saat peluncuran program RESD Fase II di Jakarta, Rabu (21/1).

Prahoro menjelaskan, pelaksanaan RESD Fase II bertumpu pada capaian fase pertama yang berlangsung sejak Desember 2020 hingga Juli 2025. Pada fase tersebut, RESD mencetak 450 lulusan sarjana terapan teknik dengan spesialisasi energi terbarukan.

Selain itu, program fase pertama disebut melatih 386 teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di sembilan provinsi, meningkatkan kapasitas 214 dosen dan instruktur, serta membangun lebih dari 100 kolaborasi strategis dengan industri. Tingkat serapan kerja lulusan politeknik juga dilaporkan mencapai 80%.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyampaikan bahwa Swiss dan Indonesia memiliki visi yang sama mengenai pentingnya tenaga kerja terampil untuk mendukung transisi energi. Ia menuturkan, dengan dukungan Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO), RESD menjadi investasi bersama dalam pengembangan SDM energi terbarukan melalui transfer keahlian sekaligus penguatan kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan. Menurutnya, kemitraan ini mendukung upaya Indonesia mencapai target NZE 2060 secara inklusif.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Khairul Munadi, menekankan penguatan SDM sebagai kunci keberhasilan transisi energi nasional. Ia menyatakan RESD tidak hanya berfokus pada pengembangan kurikulum, tetapi juga membangun sistem pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri, termasuk integrasi pendidikan formal dan nonformal dalam pengembangan green skills. Ia juga menyebut program ini mendorong kemitraan antara kampus, industri, dan mitra internasional, serta dapat menjadi rujukan praktik baik untuk direplikasi secara nasional.

Dalam RESD Fase II periode 2025-2028, program akan diperluas ke 19 politeknik dan lembaga pelatihan di bawah naungan Kementerian ESDM, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Kementerian Ketenagakerjaan. Lembaga-lembaga tersebut tersebar di 15 provinsi.

Fokus pengembangan pada fase ini meliputi ekspansi teknologi, termasuk penyimpanan energi baterai, penguatan kurikulum berbasis industri, penyediaan fasilitas laboratorium berstandar industri, serta pengarusutamaan kesetaraan gender.

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan keterlibatan industri, Kementerian ESDM berharap RESD Fase II dapat meningkatkan kesiapan kerja lulusan sekaligus memperkuat kontribusi SDM nasional dalam mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.