Dosen FISIP Universitas Samawa (UNSA) Dr. Ardiyansyah, S.IP., M.Si. menilai Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Sumbawa ke-67 dapat menjadi momentum untuk memperkuat semangat membangun daerah di bawah kepemimpinan Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP dan Drs. H. Mohamad Ansori. Menurutnya, kedua pemimpin tersebut melanjutkan warisan pembangunan dari para pendahulu, dengan tantangan yang dinilai semakin rumit dan kompleks.
Ia memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Kabupaten Sumbawa pada 2025 berada di angka 11,79 persen atau sekitar 58,23 ribu orang. Angka itu disebut turun 1,08 persen dibanding 2024 yang mencapai 12,87 persen. Namun, ia menyoroti garis kemiskinan yang mengalami peningkatan 3,18 persen, dengan tingkat pendapatan per kapita Rp 492.991. Nilai tersebut dinilainya masih jauh dibandingkan rata-rata nasional sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan.
Dari sisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Ardiyansyah menyebut data BPS menunjukkan IPM Kabupaten Sumbawa tahun 2024 sebesar 72,37 poin, menempatkan Sumbawa pada posisi keenam se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia menilai IPM Sumbawa masih berada pada level menengah dan kenaikannya belum signifikan.
Menurutnya, peningkatan IPM perlu menjadi perhatian pemerintah daerah ke depan karena IPM merupakan indikator komprehensif yang mencerminkan keberhasilan pembangunan kualitas hidup masyarakat, mencakup pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak.
Ardiyansyah juga menyinggung data umur harapan hidup (UHH) Kabupaten Sumbawa tahun 2025 yang berada di kisaran 73,07 tahun. Angka tersebut, menurutnya, mengindikasikan perlunya perbaikan kondisi kehidupan dan kesehatan.
Selain itu, ia menyebut gini rasio berdasarkan data BPS Maret 2025 sebesar 0,375 yang masuk kategori sedang. Ia juga menyoroti angka stunting Kabupaten Sumbawa tahun 2025 sebesar 29 persen, naik dibandingkan 2024 yang sebesar 25,7 persen. Menurutnya, kenaikan stunting perlu menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berpengaruh pada kemampuan belajar anak, kerentanan terhadap penyakit, serta menunjukkan rapuhnya kesejahteraan antargenerasi.
Ia turut menyoroti tingkat pengangguran terbuka (TPT) tahun 2025 yang menurut data BPS berada di angka 2,60 persen. Ardiyansyah menilai daya saing tenaga kerja Kabupaten Sumbawa masih rendah, sementara lapangan kerja produktif dan upah layak dinilai masih minim dan terbatas, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga dan upaya menurunkan angka kemiskinan.
Menurutnya, tantangan lain yang dihadapi pemerintahan Jarot–Ansori ke depan mencakup tekanan lingkungan hidup dan risiko bencana, kualitas pertumbuhan ekonomi yang belum merata, ketimpangan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah, serta pelayanan publik yang dinilai belum optimal dan perlu ditingkatkan.
Meski demikian, ia menilai momentum HUT ke-67 ini juga diiringi langkah-langkah yang disebutnya konkret untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan mengakselerasi pembangunan. Ia menyebut Jarot–Ansori melakukan komunikasi dengan sejumlah kementerian untuk mendapatkan dukungan anggaran dan program. Dari komunikasi tersebut, ia menyampaikan sejumlah program yang disebut dapat dibawa ke Sumbawa, di antaranya pembangunan Sekolah Rakyat (SR), Inpres pembangunan infrastruktur jalan, sentra industri garam, sentra industri unggas terintegrasi, program makan bergizi gratis (MBG), koperasi merah putih, bantuan beasiswa, program Sumbawa Hijau Lestari, gerakan salat subuh berjamaah, serta program lainnya.
Ardiyansyah menyatakan optimisme pembangunan Sumbawa dapat semakin maju apabila ada konsistensi antara visi-misi, program kerja, dan pelaksanaan nyata sehingga manfaatnya dirasakan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya pembangunan yang berdampak langsung pada kehidupan warga.

