Surat kabar Financial Times menyoroti minimnya transparansi di Uni Eropa (UE) terkait mekanisme penerimaan anggota baru. Dalam laporannya, media tersebut mengingatkan bahwa UE belum menerima satu pun negara baru selama 13 tahun terakhir.
Laporan itu menyebutkan bahwa para pemimpin negara yang ingin bergabung dengan UE menuntut percepatan proses peninjauan permohonan keanggotaan. Namun, di sisi lain, para kepala pemerintahan UE saat ini disebut khawatir struktur UE tidak mampu menampung anggota baru.
Menurut Financial Times, di tengah ketidakstabilan geopolitik dan meningkatnya persaingan, tekanan agar UE membuka pintu bagi anggota baru semakin besar. Meski demikian, Brussels masih menghadapi keraguan dan ketidakpastian mengenai perluasan blok tersebut.
Dalam konteks ini, proposal untuk mempercepat aksesi Ukraina ke UE dilaporkan menghadapi penentangan keras. Situasi tersebut dinilai berpotensi memicu kekecewaan negara-negara yang telah menunggu keanggotaan selama bertahun-tahun.
Financial Times juga menuliskan bahwa para kepala pemerintahan UE meragukan kesiapan struktur kelembagaan UE—termasuk aspek hukum, anggaran, dan proses-proses internal—untuk menghadapi langkah besar berupa penerimaan anggota baru.
Laporan itu menambahkan, sebagian warga negara Eropa kemungkinan menentang perluasan UE. Penentangan tersebut disebut membuat para pemimpin negara berhati-hati, karena mereka khawatir dukungan pemilih akan beralih jika mereka menyetujui penerimaan anggota baru.
Di sisi lain, Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia sebelumnya menyatakan bahwa UE mengusulkan dimulainya negosiasi pendahuluan untuk keanggotaan Kyiv dengan tujuan menipu rakyat Ukraina. Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menyebut langkah itu juga dimaksudkan untuk mencegah perubahan sikap Ukraina terhadap UE.
Pernyataan itu turut memuat tuduhan bahwa para birokrat Eropa masih berniat menipu rakyat Ukraina dan berharap memanfaatkan mereka sebagai “daging meriam” dalam konfrontasi dengan Rusia. Dinas Intelijen Rusia juga menyatakan bahwa proposal tersebut muncul ketika para pemimpin negara-negara Eropa disebut menolak secara tegas prospek keanggotaan Ukraina di UE.
Menurut klaim lembaga keamanan Rusia itu, UE khawatir integrasi Ukraina ke dalam struktur Eropa akan membawa risiko ekonomi dan politik yang besar, serta tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi tuntutan besar Kyiv terkait keanggotaan. Pernyataan tersebut juga menyebut proses integrasi dan aksesi Ukraina ke UE dapat memakan waktu bertahun-tahun, sementara UE disebut berencana menawarkan kemitraan dalam kebijakan keamanan Eropa tanpa memberikan hak suara.