Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menegaskan pengembangan pariwisata nasional perlu berbasis sistem tata ruang ekologis dan zonasi. Ia juga mendorong adanya sistem zonasi yang disertai aturan jelas mengenai batas harga terendah dan tertinggi produk UMKM lokal di sekitar kawasan pariwisata.
Menurut Novita, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat pariwisata global bagi wisatawan asing dengan kebutuhan yang beragam, mulai dari wisata alam, budaya, hingga perjalanan bisnis. Ia menilai perbedaan preferensi wisatawan tersebut semestinya menjadi dasar penyusunan grand design zonasi wisata berbasis pengalaman, bukan semata berfokus pada proyek event dan branding.
“Pariwisata berkelanjutan bukan sekadar slogan. Melainkan pilihan strategis agar Indonesia tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga dihormati sebagai destinasi kelas dunia,” kata Novita dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.
Ia menambahkan, pembangunan pariwisata harus dilakukan dengan visi jangka panjang. Novita menilai, apabila fondasi pengembangan pariwisata kuat, penguatan citra atau branding akan mengikuti dengan sendirinya.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan kinerja pariwisata nasional sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan, terutama pada kunjungan, devisa, investasi, dan tenaga kerja. Ia menyebut capaian tersebut menunjukkan daya saing pariwisata Indonesia semakin menguat di tingkat global.
Data Kementerian Pariwisata mencatat kunjungan wisatawan mancanegara hingga November 2025 mencapai 13,98 juta kunjungan atau tumbuh 10,44 persen secara tahunan. Proyeksi kementerian menyebut angka kunjungan penuh 2025 berpotensi menembus 15,3 juta dan melampaui target Rencana Kerja Pemerintah (RKP).
Widiyanti juga menyampaikan devisa pariwisata pada triwulan pertama hingga ketiga 2025 mencapai 13,82 miliar dolar AS. Dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2026, ia mengatakan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara menjadi pengungkit utama capaian devisa pariwisata dan surplus kunjungan berpotensi memperkuat posisi neraca devisa sektor pariwisata secara berkelanjutan.

