Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang menggelar diskusi publik bertajuk Mengawal Sumatera Pulih dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) AJI Padang ke-21. Kegiatan ini berlangsung di Pustaka Steva, Sabtu (24/1), dengan menghadirkan jurnalis serta aktivis masyarakat sipil.
Dalam diskusi tersebut, Amalya Reza dari Trend Asia menilai krisis yang dihadapi manusia saat ini tidak lagi sebatas krisis iklim. Menurutnya, situasi telah berkembang menjadi krisis planet yang bersifat multidimensi akibat batas-batas ekologis bumi yang terlampaui.
“Saat ini kita tidak hanya menghadapi krisis iklim, tetapi juga krisis planet yang bersifat multidimensi. Bumi tidak akan mengalami krisis jika batas-batasnya tidak dilampaui. Namun sekarang batas-batas itu telah terlampaui sehingga melampaui kapasitas kita untuk beradaptasi,” ujar Amalya.
Sementara itu, Mitra Oktavia dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menegaskan bahwa berbagai bencana ekologis yang terjadi merupakan akibat campur tangan manusia. Ia menyoroti kebijakan politik yang dinilainya mengabaikan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
“Bencana ini merupakan hasil dari campur tangan manusia. Bencana ekologis yang terjadi saat ini adalah bentuk genosida ekologis karena kebijakan politik pemerintah tidak memikirkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Dari sisi peliputan lapangan, Aidil Ichlas dari AJI Padang memaparkan temuan saat bencana melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Ia menyebut dua kesimpulan utama: besarnya kehilangan yang dialami masyarakat serta ketabahan warga dalam menghadapi dampak bencana.
“Pertama, masyarakat kehilangan rumah, anggota keluarga, hingga hutan sebagai ruang hidup mereka. Kedua, di tengah kerusakan tersebut, masyarakat tetap tabah dan berupaya bertahan hidup,” ungkap Aidil.
Aidil juga menilai pemerintah perlu melakukan refleksi dan memperkuat mitigasi bencana. Menurutnya, bencana yang berulang menjadi tanda pemerintah belum siap dan belum belajar dari pengalaman sebelumnya, sehingga masyarakat kembali menjadi pihak yang paling terdampak.
“Bencana ini menunjukkan bahwa pemerintah belum siap dan belum belajar dari pelajaran sebelumnya, sehingga rakyat kembali menjadi korban,” tegasnya.

