Luwu Timur — Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Luwu Timur (AMPLi) menggelar aksi demonstrasi di sejumlah titik di Kabupaten Luwu Timur, Kamis (26/3/2026). Aksi ini menyoroti dua isu utama, yakni tuntutan transparansi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PT IHIP serta desakan audit anggaran pembangunan Islamic Center Malili.
Salah satu aksi berlangsung di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di simpang tiga poros Trans menuju pelabuhan PT Vale jalur Balantang. Massa memblokir badan jalan sejak sekitar pukul 09.00 WITA hingga 12.00 WITA, yang menyebabkan arus lalu lintas sempat lumpuh kurang lebih tiga jam. Selama pemblokiran, massa bergantian menyampaikan orasi.
Dalam tuntutannya, AMPLi meminta dokumen AMDAL PT IHIP dibuka kepada publik. Mereka menilai dokumen tersebut berkaitan dengan dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas industri yang beroperasi di wilayah Luwu Timur, terlebih perusahaan disebut bekerja sama dengan pemerintah daerah dan menggunakan lahan milik pemerintah.
Koordinator Lapangan AMPLi, Yolan Johan, menegaskan keterbukaan dokumen AMDAL diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui potensi dampak lingkungan, rencana pengelolaan lingkungan, serta langkah mitigasi yang akan dilakukan perusahaan.
Selain di Jalan Trans Sulawesi, massa juga menggelar aksi di depan Islamic Center Malili. Dalam aksi itu, mereka menyoroti penundaan pembangunan proyek serta mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran.
AMPLi mengangkat isu alokasi anggaran lanjutan pembangunan Islamic Center pada tahun 2025 yang disebut mencapai sekitar Rp25–26 miliar dari total proyek multi-years sekitar Rp65 miliar. Massa mempertanyakan realisasi penggunaan anggaran tersebut karena hingga Maret 2026 pembangunan fisik lanjutan dinilai belum menunjukkan progres signifikan.
“Rp26 miliar itu uang rakyat, harus dipertanggungjawabkan secara terbuka. Kami ingin ada kejelasan terkait penggunaan anggaran dan kelanjutan pembangunan,” ujar Yolan Johan dalam orasinya.

