Cuaca Ekstrem dan Transisi ENSO Tekan Sektor Pangan hingga Inflasi di Sulawesi Tenggara pada 2024

Cuaca Ekstrem dan Transisi ENSO Tekan Sektor Pangan hingga Inflasi di Sulawesi Tenggara pada 2024

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang dituntut tersedia cukup, berkualitas, aman, bergizi, dan terjangkau. Namun, pertumbuhan penduduk yang mendorong kenaikan permintaan pangan, di tengah meningkatnya kebutuhan lahan non-pertanian, menambah tantangan pemenuhan pangan. Situasi ini kian kompleks karena produksi pangan bergantung pada banyak faktor, mulai dari manusia dan teknologi, hingga unsur alam seperti tanah, air, dan iklim.

Perubahan iklim yang ditandai anomali cuaca—perubahan intensitas dan pola curah hujan, kenaikan suhu, kekeringan, banjir, serta serangan hama dan penyakit—dapat memengaruhi produktivitas tanaman pangan. Salah satu fenomena yang berperan besar adalah El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang memicu pergeseran musim hujan di Indonesia. ENSO memiliki dua fase, yakni El Nino dan La Nina, yang dapat memunculkan risiko kekeringan maupun banjir dan berdampak pada komoditas pangan penting seperti padi, jagung, dan kedelai. El Nino kerap dikaitkan dengan kekeringan dan potensi gagal panen, sementara La Nina dapat meningkatkan risiko banjir serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga memengaruhi musim tanam dan produksi.

Dampak perubahan iklim, termasuk ENSO, tidak selalu sama antarwilayah. Di Indonesia yang memiliki bentang geografis luas, efeknya diperkirakan bervariasi. Di Sulawesi Tenggara (Sultra), dinamika cuaca pada 2024 menjadi perhatian karena berpengaruh pada sejumlah sektor ekonomi regional.

Musim hujan Semester I 2024: curah hujan di atas normal dan risiko bencana

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim penghujan di Sulawesi Tenggara terjadi pada Maret hingga Juni 2024. Peningkatan curah hujan mulai terlihat sejak Februari dan diperkirakan berada di atas normal, yang berarti lebih tinggi dari kondisi biasanya.

Curah hujan tinggi yang disertai angin kencang dan petir meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Di sektor pertanian dan perkebunan, hujan lebat berpotensi menimbulkan genangan atau banjir di lahan, merusak komoditas tertentu, dan berujung pada risiko penurunan produksi hingga gagal panen. Dampak lanjutan yang diantisipasi adalah kenaikan harga komoditas pertanian akibat pasokan yang terganggu.

BMKG juga memproyeksikan fenomena El Nino akan bergerak menuju kondisi netral pada periode Mei–Juni–Juli 2024. Setelah triwulan ketiga (Juli–Agustus–September) 2024, kondisi tersebut berpotensi beralih menjadi La Nina lemah.

Sementara itu, pada sektor transportasi, cuaca ekstrem dapat memicu jalan licin dan tergenang, tumbangnya pohon akibat angin kencang, serta kerusakan jembatan dan infrastruktur jalan. Kondisi ini berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas dan meningkatkan risiko keselamatan pengguna jalan, sehingga upaya pencegahan dan mitigasi dinilai penting.

Semester II 2024: kemarau diperkirakan datang lebih lambat

BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara memprakirakan kondisi El Nino beralih ke netral mulai Mei hingga Juli 2024, dengan suhu permukaan laut di perairan Indonesia diperkirakan tetap hangat dan angin timuran mulai aktif. Musim kemarau 2024 di Sultra diperkirakan dimulai paling awal Juni dan paling akhir Agustus 2024.

Awal musim kemarau tahun ini diproyeksikan umumnya lebih lambat dibanding rata-rata 30 tahun terakhir (1991–2020). Selama kemarau, curah hujan diperkirakan bervariasi dari bawah normal hingga atas normal, dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Juli–September 2024. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama kekeringan.

Sektor ekonomi terdampak: pertanian, perikanan, industri, pariwisata, hingga infrastruktur

Kondisi iklim dan cuaca memiliki pengaruh besar terhadap produksi pertanian, perikanan, perdagangan, serta perkembangan inflasi. Perubahan pola hujan dan suhu dapat mengganggu hasil panen. Kekeringan berkepanjangan berisiko menurunkan ketersediaan air irigasi, sementara curah hujan berlebihan dapat memicu banjir dan longsor yang merusak tanaman dan infrastruktur pertanian.

Di sektor perikanan, perubahan suhu laut dan cuaca ekstrem dapat mengganggu habitat ikan dan menurunkan hasil tangkapan. El Nino kerap dikaitkan dengan peningkatan suhu permukaan laut yang dapat mendorong migrasi ikan ke perairan lebih dingin, sehingga mengurangi ketersediaan ikan di wilayah tangkapan tradisional. Dampaknya merembet ke pendapatan nelayan dan pasokan ikan di pasar, yang berpengaruh pada harga komoditas perikanan.

Gangguan produksi dan kerusakan infrastruktur akibat cuaca buruk juga memengaruhi perdagangan dan distribusi. Hambatan transportasi dapat meningkatkan biaya logistik dan turut memengaruhi harga di tingkat konsumen. Secara historis, gangguan produksi akibat cuaca ekstrem kerap memicu lonjakan harga pangan dan berkontribusi pada inflasi.

Pada triwulan I 2024, curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem di Sultra tercatat memberi dampak signifikan pada berbagai sektor. Di pertanian, banjir dan genangan air dilaporkan merusak lahan, terutama tanaman padi dan jagung, sehingga menurunkan hasil panen dan menimbulkan kerugian bagi petani. Di perikanan, aktivitas melaut terganggu cuaca buruk dan gelombang tinggi yang berdampak pada produksi perikanan tangkap, dengan konsekuensi pada pendapatan nelayan dan industri pengolahan ikan.

Untuk industri pengolahan, kendala distribusi dan logistik akibat cuaca ekstrem serta kerusakan infrastruktur jalan berpotensi memperlambat produksi dan distribusi barang. Di sektor pariwisata, banjir dan cuaca yang tidak menentu dilaporkan menekan kunjungan wisatawan dan menurunkan pendapatan usaha terkait. Sementara itu, kerusakan jalan dan jembatan menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah, dan sebagian pemukiman warga dilaporkan mengalami kerusakan yang memerlukan biaya perbaikan.

Tekanan inflasi: kenaikan harga pangan dan hambatan distribusi

Cuaca ekstrem pada triwulan pertama 2024 juga dikaitkan dengan tekanan inflasi di Sultra. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) Sulawesi Tenggara pada Februari 2024 sebesar 2,90%, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Konawe sebesar 4,10%.

Penyumbang utama inflasi adalah kenaikan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 6,34%. Hujan lebat dan banjir dinilai merusak tanaman serta infrastruktur pertanian, menurunkan pasokan dan mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok. Gangguan transportasi turut memperburuk distribusi barang dan meningkatkan biaya logistik, yang pada akhirnya memengaruhi harga di pasar.

Kenaikan harga pangan berdampak langsung pada inflasi karena kelompok makanan merupakan komponen besar dalam Indeks Harga Konsumen (IHK). Kondisi ini ikut menekan daya beli, terutama kelompok berpendapatan rendah yang porsi belanjanya lebih banyak untuk kebutuhan pokok. Selain pangan, kenaikan harga energi dan biaya transportasi juga disebut berkontribusi, seiring potensi gangguan pasokan listrik dan bahan bakar serta meningkatnya biaya pengangkutan.

Komoditas yang terdampak: padi, jagung, hortikultura, perikanan, sawit, dan kakao

Sejumlah komoditas di Sultra disebut terdampak langsung oleh hujan lebat, banjir, maupun kemarau. Pada padi, banjir dan rendaman yang berlangsung lama dapat merusak sawah, menurunkan hasil dan kualitas, bahkan menyebabkan tanaman membusuk dan gagal panen. Jagung juga rentan terhadap genangan dan kelembapan tinggi yang meningkatkan risiko penyakit tanaman.

Komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayuran daun disebut sangat sensitif terhadap hujan lebat dan kelembapan tinggi karena meningkatkan risiko penyakit dan menurunkan kualitas produk. Buah-buahan seperti mangga dan durian juga dapat terdampak kelebihan air yang memicu pembusukan atau buah jatuh sebelum matang.

Di sektor perikanan, cuaca buruk dan gelombang tinggi membatasi aktivitas melaut, sementara tambak ikan dan udang berisiko terdampak banjir yang dapat merusak infrastruktur tambak serta memengaruhi kesehatan biota budidaya. Pada komoditas perkebunan, hujan lebat dapat mengganggu panen dan transportasi kelapa sawit, serta meningkatkan risiko infeksi jamur. Kakao juga rentan terhadap kelembapan tinggi yang dapat memicu penyakit pada buah.

Dampak pada berbagai komoditas tersebut berkontribusi pada kenaikan harga di pasar dan berpengaruh terhadap inflasi. Dalam konteks ini, upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk penguatan infrastruktur pertanian, perikanan, dan transportasi, menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko kerugian ekonomi pada periode berikutnya.