Deretan bangunan bersejarah dan gedung administrasi milik Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) berdiri di Kota Tentena. Berakar dari misi pelayanan Dr. A.C. Kruyt sejak 1892, Sinode GKST dikenal bukan hanya sebagai wadah spiritual, tetapi juga memiliki peran sosial, ekonomi, pendidikan, serta menjadi bagian dari sejarah masyarakat Sintuwu Maroso dan sekitarnya.
Namun, memasuki era big data dan kecerdasan buatan, muncul pertanyaan tentang kedekatan lembaga ini dengan jemaat di ruang digital. Saat mengakses situs resmi sinodegkst.org, pengunjung memang disambut beranda yang secara visual tersedia. Akan tetapi, bagi pihak yang membutuhkan informasi lebih dalam, tampilan tersebut dinilai belum memadai.
Sejumlah bagian di dalamnya disebut masih minim pembaruan. Narasi berita tercatat berhenti pada tahun-tahun sebelumnya, profil disajikan ringkas, dan fitur pencarian kerap tidak menghasilkan informasi yang dibutuhkan. Kondisi ini memunculkan penilaian bahwa pengelolaan “rumah digital” Sinode GKST belum menjadi perhatian serius.
Padahal, Sinode GKST mengonsolidasikan 27 klasis dan melayani ratusan ribu jemaat yang tersebar dari pesisir Poso, pegunungan Lore, Morowali Utara, hingga wilayah Sulawesi Selatan. Dalam konteks itu, website semestinya berfungsi sebagai pusat informasi yang dapat diakses lintas wilayah—sebuah “Banua mPogombo” (Rumah Pertemuan) virtual tanpa sekat geografis.
Kebutuhan informasi yang disebut mendesak antara lain data konkret mengenai jumlah gereja GKST saat ini, total jemaat dan Anggota Sidi yang aktif, serta peta persebaran pelayanan pengkabaran Injil di wilayah terpencil. Di era modern, data semacam ini dinilai idealnya tersaji rapi dalam basis data yang mutakhir dan mudah diakses.
Selain itu, sorotan juga mengarah pada isu yang lebih sensitif, yakni keterbukaan laporan keuangan berkala serta inventarisasi aset bergerak dan tidak bergerak milik sinode. Dalam catatan tersebut, informasi ini disebut masih tersimpan dalam arsip fisik di kantor pusat dan belum tersedia untuk diakses melalui kanal digital.
Di tengah tuntutan tata kelola organisasi yang bersih dan akuntabel, transparansi finansial dan kepemilikan aset dipandang sebagai kewajiban moral. Keterbukaan melalui website resmi juga disebut berpotensi memperkuat kepercayaan jemaat terhadap pelayan dan pimpinan sinode.
Catatan itu menekankan perlunya akses digital “satu pintu” yang terintegrasi. Ketertinggalan digital dinilai tidak seharusnya terus dipertahankan dengan alasan keterbatasan, mengingat teknologi kini kian inklusif, murah, dan relatif mudah dikelola. Yang dibutuhkan, menurut tulisan tersebut, bukan sekadar memiliki website, melainkan komitmen organisasi untuk melakukan transformasi digital secara menyeluruh.
Sinode GKST disebut perlu mempertimbangkan pengadaan atau perombakan total sistem informasi menjadi platform one-stop service. Dalam gagasan yang ditawarkan, website masa depan GKST idealnya memiliki beberapa kluster utama.
Pertama, kluster statis dan data publik yang memuat infografis jumlah jemaat, daftar pendeta, peta klasis, sejarah, serta struktur organisasi yang selalu diperbarui mengikuti mutasi atau pelantikan pejabat baru. Kedua, kluster transparansi keuangan dan aset berupa ruang khusus untuk menampilkan laporan audit keuangan tahunan serta data pengelolaan aset bergerak seperti kendaraan dan alat operasional, maupun aset tidak bergerak seperti tanah, gedung gereja, rumah sakit, dan sekolah. Ketiga, kluster pelayanan dan teologi yang menyediakan akses renungan harian, dokumen keputusan persidangan sinode, hingga materi pembinaan iman.
Pada akhirnya, website diposisikan bukan sebagai pelengkap agar organisasi tampak modern, melainkan sebagai ruang yang menunjukkan integritas, keterbukaan, dan profesionalitas. Jika Sinode GKST dinilai mampu terus membangun fasilitas fisik dan mengoordinasikan pelayanan yang luas, energi yang sama dianggap perlu diarahkan untuk membangun “gedung digital” yang informatif dan akuntabel.
Jemaat GKST, baik di kota maupun di pelosok permukiman agraris, disebut menanti langkah konkret dari para pengambil kebijakan di Tentena. Harapannya, pintu gerbang digital dapat dibuka lebih lebar dengan penyajian data yang akurat, sehingga Sinode GKST dapat bertransformasi menjadi lembaga yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga benderang dan akuntabel di ruang siber.