PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memperkuat pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan pendekatan yang tidak hanya menitikberatkan pada penyaluran bantuan, tetapi juga pada pengukuran dampak sosial dan lingkungan secara menyeluruh serta keterbukaan informasi kepada publik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi program CSR BRI agar lebih terarah dan terukur, sekaligus selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, termasuk dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Senior Manager CSR BRI, Agusman M. Latif, mengatakan penilaian program kini tidak lagi berfokus pada besaran dana atau jumlah penerima manfaat. Menurut dia, yang menjadi perhatian utama adalah dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
“Dalam implementasinya, kami memastikan setiap program memiliki kontribusi yang jelas dan terukur. Tidak hanya dari sisi output, tetapi juga outcome dan dampak jangka panjang yang dirasakan masyarakat,” ujar Agusman kepada Dewan Juri TOP CSR Awards 2026 di Jakarta.
Agusman menjelaskan, BRI mengintegrasikan berbagai inisiatif CSR dalam kerangka keberlanjutan dengan melibatkan pemangku kepentingan serta mengacu pada standar dan praktik global. Tujuannya agar setiap program memberikan nilai tambah yang berkelanjutan.
Untuk mengukur efektivitas program, BRI menerapkan mekanisme Monitoring, Reporting, and Verification (MRV). Melalui sistem ini, kegiatan CSR dievaluasi berkala menggunakan sejumlah indikator, antara lain Social Impact Assessment dan Environmental Impact Assessment.
“Setiap program kami ukur secara komprehensif. Kami tidak hanya berbicara angka, tetapi juga perubahan sosial yang terjadi, termasuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kualitas lingkungan,” kata Agusman.
Selain MRV, BRI menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI) untuk menilai nilai manfaat sosial yang dihasilkan dibandingkan dengan investasi yang dikeluarkan. Pengukuran tersebut dilengkapi dengan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) guna menangkap persepsi langsung dari penerima manfaat.
BRI menilai pendekatan berbasis data memungkinkan evaluasi dilakukan secara lebih objektif, sekaligus menjadi dasar untuk menyempurnakan program agar lebih tepat sasaran dan efektif.
Dari sisi transparansi, BRI menyampaikan hasil implementasi program CSR melalui berbagai kanal, seperti laporan tahunan, laporan keberlanjutan, media sosial, siaran pers, hingga publikasi di media massa. Agusman menambahkan, sebagian program juga didokumentasikan dalam bentuk artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional.
BRI juga menyusun dokumentasi praktik terbaik pelaksanaan program CSR dalam bentuk buku ber-ISBN yang tersedia di Perpustakaan Nasional. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi berbagai pihak dalam mengembangkan program CSR di daerah masing-masing.
Penguatan TJSL BRI dijalankan melalui model manajemen “BRI Peduli” sebagai payung program. Model ini mengadopsi prinsip United Nations Global Compact yang disesuaikan dengan konteks bisnis dan sosial di Indonesia, serta menerapkan siklus manajemen terstruktur mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengukuran, hingga komunikasi hasil.
Pada tahap awal, BRI menyusun grand design program berdasarkan kebijakan internal perusahaan, termasuk arahan direksi terkait pelaksanaan TJSL. Perencanaan juga mengacu pada roadmap jangka panjang perusahaan hingga 2030 untuk menjaga kesinambungan antara program CSR dan strategi bisnis.
Dalam tahap assessment dan perencanaan, BRI mengidentifikasi isu strategis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan dengan mempertimbangkan potensi risiko, peluang, serta dampak yang dapat dihasilkan. Tahap implementasi kemudian dijalankan melalui berbagai inisiatif, seperti program unggulan (flagship), kegiatan tanggap darurat bencana, serta pelibatan pemangku kepentingan.
Selanjutnya, evaluasi dilakukan menggunakan indikator terstandarisasi, termasuk Environmental Impact Assessment (EIA), SROI, dan IKM. Tahap akhir adalah komunikasi dan publikasi, yang disebut BRI sebagai bagian penting untuk meningkatkan akuntabilitas sekaligus mendorong replikasi program oleh pihak lain.
Agusman menegaskan fokus “BRI Peduli” adalah menciptakan dampak berkelanjutan, bukan sekadar hasil jangka pendek. “Dampak yang dihasilkan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Ini yang menjadi fokus utama kami dalam menjalankan program TJSL,” ujarnya.
Melalui pendekatan yang sistematis, berbasis pengukuran dampak, dan didukung transparansi kepada publik, BRI menyatakan komitmennya untuk berkontribusi pada pembangunan sosial dan lingkungan sejalan dengan agenda keberlanjutan.

