BNPB Targetkan Pengungsi Banjir Aceh Utara Pindah dari Tenda pada 18 Februari 2026

BNPB Targetkan Pengungsi Banjir Aceh Utara Pindah dari Tenda pada 18 Februari 2026

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto meninjau langsung progres pembangunan hunian sementara (huntara) bagi pengungsi banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (22/1). Peninjauan ini dilakukan bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Dalam kunjungan tersebut, Suharyanto didampingi Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Safrizal ZA selaku Koordinator Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Aceh, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fad), serta Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil.

BNPB menyatakan seluruh pengungsi korban banjir ditargetkan tidak lagi tinggal di tenda pengungsian pada 18 Februari 2026, menjelang bulan Ramadhan. Para pengungsi akan dipindahkan ke huntara, sementara sebagian lainnya memilih tinggal sementara di rumah saudara atau keluarga.

Suharyanto mengatakan, huntara yang dibangun di Aceh Utara berjumlah 4.000 unit. Jumlah tersebut diasumsikan sebagai tahap pertama pembangunan hunian tetap. Namun, ia menyebut progres pembangunan saat ini baru sekitar 30 persen.

Bagi pengungsi yang memilih tinggal sementara di rumah keluarga, BNPB menyiapkan dana tunggu hunian sebesar Rp600.000 per kepala keluarga per bulan selama enam bulan. Dalam rentang waktu itu, pembangunan hunian tetap diharapkan dapat diselesaikan. Suharyanto menilai tantangan utama adalah besarnya jumlah hunian yang harus dibangun sehingga pekerjaan perlu dipercepat.

Selain BNPB, pembangunan hunian melibatkan Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta sejumlah lembaga lainnya. Suharyanto menyatakan optimistis target sebelum Ramadhan dapat tercapai dan pada 18 Februari pengungsi sudah tidak lagi berada di tenda.

Usai meninjau pembangunan hunian, Kepala BNPB juga menyusuri aliran Sungai Jambo Aye di Desa Seulemak, Kecamatan Langkahan, menggunakan perahu bermesin. Kegiatan itu dilakukan untuk melihat sejumlah titik terdampak banjir besar pada 25 November 2025 yang belum bisa diakses melalui jalur darat.