Pertandingan Argentina melawan Mesir di Piala Dunia 2026 memunculkan sorotan yang melampaui urusan skor. Bagi sebagian pendukung Palestina, laga yang melibatkan negara-negara dengan persepsi posisi politik berbeda kerap dibaca melalui lensa kemanusiaan, bukan semata statistik pertandingan.
Dalam narasi yang beredar di ruang publik, disebutkan suasana kontras: warga Gaza digambarkan bersorak saat Mesir mencetak gol meski berada di tengah kehancuran, sementara di Israel para pemukim ilegal disebut mengibarkan bendera Argentina setelah kemenangan yang dinilai kontroversial dan sempat diwarnai keputusan wasit.
Argentina memastikan lolos ke perempat final Piala Dunia 2026 setelah bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Mesir 3-2 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Rabu (8/7) dini hari WIB. Mesir sempat unggul lewat gol Yasser Ibrahim pada babak pertama dan Mostafa Zico di babak kedua. Lionel Messi juga gagal mengeksekusi penalti setelah tendangannya ditepis Mostafa Shoubir.
Namun, Argentina membalikkan keadaan pada menit-menit akhir melalui gol Cristian Romero dan dua gol penentu lainnya. Sebelumnya, gol kedua Mesir sempat dianulir VAR karena pelanggaran dalam proses terjadinya gol. Kemenangan dramatis dan penuh kontroversi ini mengantarkan Argentina melaju ke babak perempat final.
Di luar lapangan, sebagian pendukung Argentina menyoroti kedekatan Messi dengan Israel karena ia beberapa kali berkunjung ke Yerusalem, termasuk mengunjungi Tembok Barat (Western Wall), yang oleh umat Islam juga dikenal sebagai Tembok Al-Buraq. Kunjungan tersebut memunculkan penafsiran dari sebagian kalangan yang mengaitkan Messi dengan citra positif Israel, meski tidak ada pernyataan dari Messi yang menyebut dirinya mewakili gerakan atau agenda politik Israel.
Bagi banyak pendukung Palestina, keberpihakan kepada Mesir disebut tidak semata karena kedekatan kawasan Arab. Dukungan itu, menurut pandangan mereka, lahir dari realitas bahwa warga Palestina masih hidup di bawah penjajahan, blokade, dan serangan militer Israel yang menelan korban sipil. Dalam konteks ini, sepak bola dipandang sebagai ruang ekspresi yang sulit dipisahkan dari realitas politik dan kemanusiaan.
Reaksi di media sosial turut memperlihatkan bagaimana sepak bola menjadi bagian dari pertarungan narasi. Kemenangan atau kekalahan tim tertentu kerap dijadikan simbol sikap atas situasi kemanusiaan di Palestina. Dukungan kepada Mesir, bagi sebagian pendukung Palestina, diposisikan sebagai bentuk keberpihakan kepada pihak yang mereka pandang sebagai korban kekerasan yang belum berakhir.
Perdebatan tersebut juga kembali memunculkan kritik terhadap FIFA terkait standar yang dinilai tidak konsisten dalam menerapkan sanksi terhadap negara yang terlibat perang. Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, FIFA bersama UEFA menjatuhkan sanksi penuh kepada Rusia. Tim nasional Rusia dan seluruh klub Rusia dilarang mengikuti kompetisi internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan turnamen antarklub Eropa. FIFA mengumumkan keputusan itu pada 28 Februari 2022 dengan alasan menjaga integritas kompetisi serta mempertimbangkan tekanan dari berbagai asosiasi sepak bola dunia.
Sebaliknya, Israel hingga kini tetap diizinkan mengikuti kompetisi FIFA dan UEFA meski perang di Gaza disebut telah menimbulkan kehancuran besar. Data Kementerian Kesehatan Gaza menyebut puluhan ribu warga Palestina meninggal sejak Oktober 2023. Sejumlah lembaga internasional, termasuk Mahkamah Internasional (ICJ), juga telah memerintahkan langkah-langkah sementara terkait dugaan pelanggaran Konvensi Genosida. Majelis Umum PBB pun berulang kali mengeluarkan resolusi yang menyerukan penghentian agresi dan perlindungan warga sipil.
Perbedaan perlakuan itu menjadi dasar kritik yang mempertanyakan konsistensi FIFA. Jika invasi Rusia dijadikan alasan larangan bertanding demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan, mengapa pendekatan serupa belum diterapkan terhadap Israel? Pertanyaan ini terus bergema di ruang politik internasional, tribun sepak bola, dan media sosial, ketika olahraga semakin sulit dipisahkan dari isu keadilan global.