Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) resmi meluncurkan aplikasi HargaSawitIndonesia.id dalam acara “Launching Aplikasi HargaSawitIndonesia.id (Harga TBS dan CPO)” di Hotel 101 Urban Jakarta Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/2026). Peluncuran ini mengusung tema “Transparansi Data Harga Sawit untuk Petani Maju dan Industri Berkelanjutan”.
HargaSawitIndonesia.id dihadirkan sebagai pusat informasi terpadu yang menyajikan data harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani, harga crude palm oil (CPO), serta berbagai indikator pasar sawit dari tingkat nasional hingga internasional. APKASINDO menyebut peluncuran ini sebagai langkah penting untuk mendorong transparansi tata niaga sawit nasional, terutama dalam menyediakan akses informasi harga yang cepat, akurat, dan mudah dijangkau oleh petani, pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., mengatakan kehadiran platform tersebut merupakan implementasi dari semangat Asta Cita Presiden RI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor strategis, termasuk perkebunan kelapa sawit.
“Implementasi kebijakan Presiden melalui Asta Cita salah satunya adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dalam industri sawit, sekitar 42 persen kebun dikelola oleh petani. Karena itu, transparansi harga TBS akan menjadi lokomotif untuk menciptakan keadilan harga bagi petani sawit,” ujar Gulat dalam peluncuran itu.
Ia menilai keadilan harga hanya dapat terwujud apabila seluruh pelaku memiliki akses yang setara terhadap informasi pergerakan harga CPO maupun harga TBS di berbagai daerah.
Melalui dashboard HargaSawitIndonesia.id, pengguna dapat memantau harga CPO dari tiga referensi utama dunia, yakni Indonesia, Malaysia, dan Rotterdam. Platform ini juga menampilkan perbandingan harga TBS petani swadaya dan petani bermitra di berbagai provinsi, termasuk analisis serta proyeksi pergerakan harga TBS ke depan.
“Di dalam aplikasi ini diuraikan seluruh informasi mulai dari harga CPO di tiga negara, disparitas harga TBS antarprovinsi, baik petani swadaya maupun petani bermitra, hingga prediksi harga TBS sebagai salah satu tolok ukur kesejahteraan petani,” kata Gulat.
Gulat juga menyampaikan bahwa dampak implementasi program biodiesel B50 disebut belum sepenuhnya dirasakan petani sawit karena harga CPO global belum mengalami kenaikan signifikan. Menurutnya, dashboard HargaSawitIndonesia.id diharapkan dapat membantu menjelaskan letak hambatan yang memengaruhi harga TBS petani.
“Untuk membuka di mana letak hambatan harga TBS petani sawit, dashboard HargaSawitIndonesia.id ini akan ikut menjelaskan dan menunjukkan di mana persoalannya. Konsep utama dashboard ini adalah transparansi, akuntabilitas, dan penyebarluasan informasi kepada seluruh pemangku kepentingan, khususnya petani sawit,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbukaan data diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan sekaligus memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok industri sawit nasional.
Menurut Gulat, platform ini telah mendapat sambutan positif bahkan sebelum peluncuran resminya dan disebut telah menjadi rujukan informasi bagi pelaku industri sawit. Ia menyebut jumlah kunjungan ke situs tersebut mencapai sekitar lima juta, meski belum genap 30 hari sejak mulai diperkenalkan.
Melalui peluncuran HargaSawitIndonesia.id, APKASINDO menegaskan komitmennya untuk mendorong transparansi pasar, mendukung implementasi kebijakan pemerintah, serta meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit melalui penyediaan data yang terbuka, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.