Sebuah analisis Mehr News Agency yang diterbitkan pada 26 Juli 2026 menilai rencana invasi darat Amerika Serikat ke Iran berpotensi menjerumuskan Washington ke dalam konflik berkepanjangan yang lebih mahal dan lebih rumit dibandingkan perang di Vietnam, Irak, maupun Afghanistan. Dalam penilaiannya, luas wilayah Iran, kondisi geografis, kemampuan pertahanan, serta risiko meluasnya konflik regional dapat membuat operasi darat menjadi pertaruhan strategis dengan konsekuensi yang sulit dikendalikan.
Menurut laporan tersebut, setelah berbulan-bulan sejak dimulainya agresi Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, Washington dinilai belum mencapai tujuan-tujuan utama yang selama ini menjadi dasar pembenaran perang. Mehr menyebut Amerika Serikat belum berhasil menghancurkan program nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan rudal, mengganti sistem politik, maupun melemahkan Poros Perlawanan. Perang yang semula diperkirakan dapat memaksa Iran mundur dalam waktu singkat justru, menurut analisis itu, menunjukkan kegagalan kalkulasi politik dan militer.
Meski demikian, Mehr menilai sejumlah pihak yang sejak awal mendorong perluasan konflik masih berupaya membawa perang ke tahap yang lebih berbahaya. Israel, bersama kalangan pendukung perang di Gedung Putih dan Kongres, disebut terus menekan agar Amerika Serikat mengerahkan pasukan darat secara langsung ke Iran. Namun, Mehr berpandangan langkah itu tidak menutupi kegagalan strategi sebelumnya, melainkan memperbesar biaya dan risiko yang harus ditanggung Washington.
Dalam analisisnya, Mehr menyebut kemunculan opsi invasi darat lebih mencerminkan pengakuan atas belum tercapainya sasaran melalui strategi yang mengandalkan serangan udara, operasi intelijen, sabotase, pembunuhan terarah, serta tekanan politik dan ekonomi. Sejak awal konflik, Amerika Serikat dan sekutunya disebut membawa tujuan seperti menghancurkan program nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan rudal dan pesawat nirawak, melemahkan Poros Perlawanan, menciptakan instabilitas di dalam negeri, hingga memaksa perubahan arah politik Republik Islam. Namun, setelah berbulan-bulan konflik berlangsung, laporan itu menilai sasaran-sasaran tersebut belum berhasil diwujudkan.
Mehr juga menyoroti peran kelompok yang disebut mendorong eskalasi, termasuk lobi pro-Israel seperti AIPAC, sebagian pejabat garis keras di pemerintahan Amerika Serikat, sejumlah anggota Kongres, dan lembaga pemikir neokonservatif. Menurut analisis tersebut, kekeliruan mendasar kelompok-kelompok itu adalah anggapan bahwa peningkatan eskalasi secara otomatis akan menghasilkan kemenangan. Mehr merujuk pengalaman di Vietnam, Irak, dan Afghanistan untuk menekankan bahwa keunggulan udara, teknologi militer, dan persenjataan modern tidak selalu dapat diubah menjadi kemenangan politik yang berkelanjutan.
Mehr menilai jika Presiden Donald Trump memutuskan melancarkan invasi darat di bawah tekanan kelompok pendukung perang, Amerika Serikat akan memasuki fase konflik dengan risiko jauh lebih besar dibandingkan tahap sebelumnya. Keputusan itu, menurut laporan tersebut, tidak akan memperbaiki kegagalan yang telah terjadi dan justru dapat membawa Washington ke perang berkepanjangan tanpa prospek penyelesaian yang jelas.
Analisis itu menempatkan geografi Iran sebagai salah satu tantangan terbesar bagi setiap invasi darat. Iran digambarkan memiliki wilayah sangat luas dengan bentang pegunungan kompleks, kawasan gurun, jalur-jalur sempit, kota-kota berpenduduk padat, serta jarak jauh antarpusat strategis. Faktor-faktor tersebut diperkirakan menghambat laju ofensif sekaligus memperpanjang jalur logistik pasukan penyerbu.
Dalam skenario perang darat, militer Amerika Serikat akan menghadapi kebutuhan pasokan berkelanjutan, mulai dari bahan bakar, amunisi, logistik, peralatan, hingga personel pengganti. Semakin jauh pasukan bergerak dari pangkalan pendukung, semakin sulit pula melindungi jalur pasokan, konvoi, gudang logistik, dan fasilitas komunikasi. Mehr menilai kondisi ini dapat membuat sebagian besar kekuatan tempur Amerika Serikat terkuras untuk mempertahankan wilayah yang dikuasai dan mengamankan jalur logistik, alih-alih memperluas operasi.
Mehr juga menilai keunggulan udara dan teknologi canggih tidak otomatis menyelesaikan persoalan perang darat yang menuntut kehadiran pasukan secara terus-menerus, penguasaan jalur strategis, serta kemampuan menjaga keamanan wilayah belakang. Di sisi lain, Iran dinilai memiliki kombinasi kemampuan militer resmi, dukungan rakyat, dan pengalaman panjang dalam perang asimetris yang memungkinkan perlawanan berlapis dan berkesinambungan. Dalam penilaian itu, pasukan Amerika Serikat diperkirakan tidak akan menghadapi satu garis pertahanan tetap, melainkan perlawanan yang dapat berkembang luas, berlangsung lama, dan meningkatkan biaya perang.
Laporan tersebut juga menyebut Washington tidak dapat menggantungkan harapan pada asumsi bahwa masyarakat Iran akan terpecah akibat invasi asing. Menurut Mehr, serangan dari luar justru berpotensi mengesampingkan perbedaan politik di dalam negeri dan mendorong persatuan untuk mempertahankan kedaulatan. Bahkan kelompok yang mengkritik pemerintah dinilai belum tentu mendukung masuknya pasukan asing atau pendudukan wilayah Iran.
Mehr menilai Iran tidak harus mengalahkan Amerika Serikat melalui perang konvensional. Cukup dengan menggagalkan upaya Washington meraih kemenangan cepat dan berbiaya rendah, tekanan politik, korban jiwa, beban ekonomi, dan kelelahan militer diperkirakan akan meningkat seiring panjangnya konflik.
Dalam bagian lain, Mehr kembali mengingatkan pengalaman Vietnam, Irak, dan Afghanistan, ketika Amerika Serikat memulai perang dengan keyakinan dapat menang cepat namun gagal membangun tatanan politik stabil sesuai tujuan awal. Akibatnya, konflik berubah menjadi perang berkepanjangan yang menguras sumber daya dan melemahkan posisi politik Amerika Serikat.
Menurut analisis tersebut, invasi darat ke Iran berpotensi menghadirkan tantangan yang lebih kompleks karena Iran dinilai memiliki wilayah lebih luas, struktur pemerintahan yang tetap berfungsi, angkatan bersenjata terorganisasi, serta kemampuan rudal dan pesawat nirawak yang signifikan. Posisi geografis Iran yang berada di persimpangan jalur energi dunia, pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat, dan negara-negara strategis di kawasan juga dinilai dapat memperluas dampak konflik melampaui perbatasan Iran.
Mehr memperkirakan beban perang tidak hanya muncul di medan tempur, tetapi juga melalui bertambahnya korban jiwa, meningkatnya anggaran militer, gangguan pasar energi, tekanan terhadap sekutu-sekutu regional, serta meningkatnya penolakan di dalam negeri. Semakin lama perang berlangsung, menurut laporan itu, semakin lebar jarak antara tujuan yang diumumkan Washington dan hasil yang benar-benar dicapai.
Analisis tersebut menekankan bahwa kekalahan Amerika Serikat tidak selalu ditandai oleh kekalahan dalam satu pertempuran besar, melainkan dapat terjadi ketika Washington pada akhirnya terpaksa mengakhiri konflik setelah bertahun-tahun berperang dengan korban jiwa dan biaya besar, namun tanpa mencapai tujuan-tujuan utamanya. Pada akhirnya, Mehr menyimpulkan invasi darat terhadap Iran bukan jalan keluar, melainkan awal pertaruhan strategis yang dapat membebani Amerika Serikat selama bertahun-tahun.