Sebuah video yang beredar di media sosial diklaim menampilkan seorang korban terpidana kejahatan seksual asal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein, sedang diwawancara dan memberikan kesaksian. Dalam video tersebut, perempuan yang tampak menangis itu menyebut ada hal yang lebih buruk dan tidak terdokumentasikan dalam “File Epstein”.
Namun, hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com menyimpulkan bahwa video tersebut bukan rekaman wawancara asli. Video itu merupakan konten manipulasi yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Video dengan narasi “interviews from victims of Jeffrey Epstein Files” dibagikan oleh sejumlah akun Facebook. Dalam keterangan unggahannya, video itu juga disebut sebagai pengakuan seorang penyintas dari berkas Epstein yang menimbulkan pertanyaan tentang keaslian dokumen-dokumen tersebut dan Donald Trump.
Berdasarkan penelusuran, video tersebut dilabeli sebagai konten yang dihasilkan AI. Saat diperiksa menggunakan Hive Moderation, video itu terdeteksi memiliki probabilitas 99,7 persen sebagai video buatan AI.
Selain itu, ditemukan pula akun TikTok @epstein_survivors yang kerap membagikan video manipulasi AI yang diklaim menampilkan kesaksian para korban Epstein.
Meski demikian, Kompas.com menegaskan bahwa kejahatan Epstein merupakan peristiwa nyata dan tidak seharusnya terdistraksi oleh narasi hoaks. Sejumlah korban pelecehan seksual yang terkait dengan kasus tersebut memang pernah memberikan kesaksian dan menyerukan agar pihak-pihak yang terlibat bertanggung jawab. Kemunculan dokumen hukum dan kesaksian baru juga disebut telah memberi gambaran baru mengenai skala pelanggaran yang terjadi selama bertahun-tahun.
Kompas.com turut menyebut bahwa video kesaksian korban Epstein dapat ditemukan melalui kanal YouTube NBC News dan ABC News.
Kesimpulannya, video yang diklaim sebagai wawancara korban kejahatan Epstein merupakan konten hasil manipulasi berbasis AI, meski terdapat korban nyata yang memang memberikan kesaksian terkait kasus tersebut.

