MEULABOH – Universitas Teuku Umar (UTU) kembali meraih penghargaan atas pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek). Penghargaan tersebut diberikan dalam bentuk dukungan operasional penyelenggaraan pendidikan dengan nilai insentif sebesar Rp3,2 miliar.
Pengukuran capaian IKU perguruan tinggi negeri (PTN) mengacu pada delapan indikator kinerja utama yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 3/M/2021 tentang IKU PTN dan LLDikti. Hasil akhir penilaian IKU disebut telah melalui proses validasi dan verifikasi, serta disampaikan melalui Keputusan Direktur Jenderal Nomor 103/E/KPT/2023 tentang Penghargaan Capaian IKU PTN Tahun 2022.
Rektor UTU Dr. Drs. Ishak Hasan, M.Si menyampaikan capaian tersebut merupakan hasil kerja seluruh jajaran pimpinan dan sivitas akademika. Ia berharap kebersamaan yang telah terbangun dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan untuk mendukung kemajuan UTU. Menurutnya, UTU juga terus berupaya meningkatkan pencapaian IKU dari tahun ke tahun.
Rektor menambahkan, dalam dua tahun terakhir UTU secara konsisten menunjukkan komitmen dalam mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). IKU merupakan salah satu kebijakan Kemdikbudristek yang merupakan turunan dari program Kampus Merdeka, khususnya terkait pendanaan bagi perguruan tinggi. Melalui pelaksanaan Merdeka Belajar, disalurkan dana insentif untuk menunjang proses tersebut.
Namun, insentif tersebut tidak otomatis diterima seluruh perguruan tinggi. Dana diberikan kepada PTN yang memenuhi syarat dan ketentuan, yakni mencapai IKU yang ditetapkan. Delapan indikator IKU yang disebutkan meliputi: lulusan mendapat pekerjaan yang layak; mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus; dosen berkegiatan di luar kampus; praktisi mengajar di dalam kampus; hasil kerja dosen digunakan oleh masyarakat; program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia; kelas yang kolaboratif dan partisipatif; serta program studi berstandar internasional.
Indikator-indikator tersebut menjadi standar penilaian, di mana perguruan tinggi yang mampu memenuhinya berpeluang memperoleh predikat sebagai perguruan tinggi terbaik, sekaligus berpeluang mendapatkan persentase pemberian BOPTN yang lebih besar dibanding perguruan tinggi yang belum mencapai IKU.

