Universitas Jayabaya Gelar Diskusi Publik soal Pengelolaan Negara dalam Perspektif Kebudayaan, Hadirkan Deddy Mizwar

Universitas Jayabaya Gelar Diskusi Publik soal Pengelolaan Negara dalam Perspektif Kebudayaan, Hadirkan Deddy Mizwar

Universitas Jayabaya menggelar Diskusi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) bertajuk “Pengelolaan Negara dalam Perspektif Kebudayaan” di Ruang Seminar Auditorium Prof. Dr. Hj. Yuyun Moeslim Taher, S.H., Gedung Rektorat Universitas Jayabaya, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Dr. H. Deddy Mizwar, S.Sn., S.E., M.I.Pol. (Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2013–2018) sebagai pembicara, dengan Dr. Ngudi Astuti, M.Si. (Dosen FISIP Universitas Jayabaya) sebagai moderator.

Acara dibuka dengan persembahan tarian tradisional dari siswa-siswi MI Al-Falah Klender, Jakarta Timur. Setelah itu, dilakukan sesi foto bersama yang melibatkan Ketua Yayasan Jayabaya drg. H. Moestar Putrajaya, FICD, M.H., Deddy Mizwar, jajaran pimpinan Universitas Jayabaya, serta alumni.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan pembacaan doa. Dalam sambutan panitia, Wakil Ketua Panitia Ridha Furqon Wahyu Ramdhani menyatakan diskusi publik ini bertujuan membuka perspektif mengenai bagaimana pengelolaan negara yang baik dapat dilakukan melalui pendekatan kebudayaan guna membentuk karakter masyarakat. Ia berharap forum tersebut memberi wawasan baru bagi para peserta.

Dekan FISIP Universitas Jayabaya, Drs. Denny Ramdhani, M.Si., dalam sambutannya menuturkan bahwa pengelolaan negara dalam perspektif kebudayaan sejak Indonesia merdeka pada 1945 mengalami evolusi, dari upaya membangun identitas nasional hingga menjadikan kebudayaan sebagai aset strategis pembangunan. Ia menekankan nilai gotong royong, musyawarah-mufakat, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu keberagaman. Menurutnya, kebudayaan ditempatkan bukan semata warisan masa lalu, melainkan juga identitas bangsa dan landasan pembangunan karakter, sekaligus upaya memperkuat ketahanan budaya di tengah peradaban dunia.

Sementara itu, sambutan Rektor Universitas Jayabaya Prof. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H., M.Hum., yang disampaikan oleh Wakil Rektor I Prof. Ir. Herliati, M.T., Ph.D., menegaskan tema diskusi memiliki relevansi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menyampaikan bahwa pengelolaan negara tidak hanya terkait kekuasaan, kebijakan, atau administrasi pemerintahan, tetapi juga menyangkut nilai-nilai kebudayaan yang hidup di masyarakat. Kebudayaan disebut sebagai fondasi moral yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam membangun peradaban bangsa.

Dalam kesempatan itu, pihak rektorat juga menyampaikan apresiasi kepada FISIP Universitas Jayabaya atas terselenggaranya forum ilmiah tersebut, serta penghargaan kepada Deddy Mizwar yang dinilai dapat memberikan perspektif dari kiprahnya di pemerintahan, seni, dan kebudayaan. Universitas Jayabaya, menurutnya, berkomitmen menghadirkan ruang intelektual untuk mendorong pemikiran kritis, dialog akademik, dan penguatan kesadaran kebangsaan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemakaian jaket almamater Universitas Jayabaya kepada Deddy Mizwar oleh Ketua Yayasan Jayabaya drg. H. Moestar Putrajaya, FICD, M.H.

Dalam paparan utamanya, Deddy Mizwar menyampaikan bahwa di era media sosial saat ini, unsur kebudayaan berperan penting, termasuk sebagai sarana diplomasi. Ia juga menilai industri kebudayaan menjadi peluang bagi anak muda kreatif karena potensinya yang besar.

Deddy mencontohkan film sebagai salah satu medium yang efektif karena memiliki daya ingat kuat di masyarakat. Menurutnya, penetrasi film dinilai efektif untuk menyampaikan pesan kepada publik. Ia juga menekankan pemanfaatan nilai-nilai budaya Indonesia untuk membangun persepsi bangsa di tingkat internasional.

“Nilai nilai kebudayaan dapat menjadi sarana menciptakan diplomasi kebudayaan menciptakan kekaguman bangsa-bangsa lain di dunia pada Indonesia, nilai-nilai kebudayaan ini dapat menjadi sarana untuk mencapai Indonesia Emas di tahun 2045,” ujar Deddy dalam diskusi tersebut.

Diskusi publik berlangsung aman, tertib, dan interaktif melalui sesi dialog serta tanya jawab. Kegiatan ini dihadiri civitas akademika Universitas Jayabaya dan masyarakat umum yang mengikuti jalannya diskusi.