Transparansi Donasi di Situs Ibadah: Menjaga Kepercayaan dan Melestarikan Warisan Budaya

Transparansi Donasi di Situs Ibadah: Menjaga Kepercayaan dan Melestarikan Warisan Budaya

Selama musim festival, situs bersejarah dan budaya Kuil Cua Dat di Komune Van Xuan menjadi salah satu tujuan utama wisata dan ibadah, dengan jumlah kunjungan rata-rata sekitar 100.000 orang. Ramainya arus peziarah mendorong pengelola menerapkan pengaturan khusus, termasuk tata kelola penerimaan dan penggunaan donasi agar berjalan tertib serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dewan Pengelola Kuil Cua Dat menyusun rencana komprehensif untuk memandu pengunjung yang datang mempersembahkan dupa, mulai dari penempatan personel, pengorganisasian, hingga pembagian tugas yang jelas. Dalam penghitungan donasi, dibentuk tim beranggotakan 12 orang yang melibatkan perwakilan sektor ekonomi, budaya dan sosial, Komite Front Tanah Air, dewan pengelola situs, akuntan, bendahara, serta kepolisian Komune Van Xuan.

Kotak donasi disegel dengan cermat dan dibuka sekali sehari saat perwakilan lintas instansi hadir untuk menghitung uang. Dana yang terkumpul kemudian dipertanggungjawabkan secara publik dan transparan. Pengeluaran mengikuti peraturan internal, termasuk untuk biaya listrik dan air, pemeliharaan keamanan dan ketertiban, perlindungan lingkungan, serta penyetoran ke anggaran negara.

Direktur Pusat Penyediaan Layanan Publik Komune Van Xuan, Do Doan Bay, menyatakan dana sumbangan disetorkan ke anggaran sesuai pedoman Komite Rakyat Komune Van Xuan dan instansi terkait mengenai pengumpulan dan pengeluaran donasi. Dana tersebut digunakan untuk terus berinvestasi dalam perbaikan sarana di situs bersejarah, memenuhi kebutuhan pengunjung yang datang beribadah, sekaligus mendukung pelestarian situs.

Kerangka pengelolaan donasi juga merujuk pada Surat Edaran No. 04/2023/TT-BTC tertanggal 19 Januari 2023 dari Kementerian Keuangan. Dalam aturan ini, donasi dan sponsor dipahami sebagai kontribusi sukarela berupa uang, dokumen berharga, logam mulia, atau batu mulia dari organisasi maupun individu, untuk melindungi dan mempromosikan nilai peninggalan sejarah atau menyelenggarakan festival.

Donasi tidak hanya terbatas pada uang tunai dalam kotak sumbangan, tetapi juga mencakup sponsor dengan tujuan tertentu, seperti pendanaan pengecoran lonceng atau kontribusi bagi dana bersama situs bersejarah. Identifikasi yang tepat atas jenis donasi dinilai penting agar unit pengelola dapat menerapkan sistem akuntansi dan metode pengelolaan yang sesuai, serta membagi dan menggunakan pemasukan secara adil dan transparan.

Memasuki tahun 2026, penerimaan donasi disebut akan semakin menggabungkan tradisi dan modernitas, terutama melalui promosi pembayaran non-tunai untuk memperkuat kontrol dan meminimalkan risiko kehilangan. Kuil, pagoda, dan situs bersejarah akan diwajibkan membuka rekening di bank atau Kas Negara. Rekening ini dimaksudkan untuk mencerminkan seluruh aliran donasi yang ditransfer atau dibayarkan secara elektronik.

Selain itu, uang tunai yang tidak terpakai juga harus disetorkan ke rekening tersebut demi keamanan aset, alih-alih disimpan dalam jumlah besar di lokasi yang dapat menimbulkan risiko kebakaran, ledakan, atau pencurian. Untuk memastikan transparansi pengumpulan dan pengeluaran, sejumlah daerah yang memiliki kuil, pagoda, dan situs bersejarah menerapkan ketentuan dalam Surat Edaran No. 04/2023/TT-BTC, pedoman dari sektor keuangan, peraturan pengeluaran internal, serta pengalokasian dana bagi restorasi dan kegiatan keagamaan.

Praktik serupa juga diterapkan di Kuil Sembilan Sumur di Kelurahan Quang Trung. Kepala Subkomite Manajemen setempat, Nguyen Anh Huan, mengatakan kuil tersebut memiliki dua sumber dana. Untuk sumbangan, dewan pengelola menugaskan personel mengumpulkan dan mencatat pemasukan dalam buku besar guna memastikan transparansi. Sementara untuk sumbangan lampu dan minyak, petugas mengumpulkan uang setiap hari dan menempatkannya di kotak sumbangan. Setiap hari, tim antarlembaga menghitung sumbangan dan menjalankan peraturan pengeluaran internal yang dikeluarkan oleh Komite Rakyat Kelurahan.

Di tingkat provinsi, kebutuhan tata kelola donasi menjadi semakin penting seiring besarnya jumlah situs dan kegiatan. Berdasarkan statistik, Provinsi Thanh Hoa saat ini memiliki lebih dari 1.500 situs bersejarah dan tempat wisata, serta hampir 300 festival. Dalam konteks ini, pengelolaan donasi yang transparan dinilai tidak hanya menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan organisasi yang berkunjung, tetapi juga membantu membangun citra positif tempat-tempat suci di mata warga dan wisatawan.

Sejumlah pengunjung pun menilai kontribusi mereka akan lebih bermakna ketika diyakini digunakan sesuai tujuan. Hoang Thi Van dari Komune Ha Trung, yang kerap berkunjung ke Pagoda Cao untuk beribadah, menyebut dirinya tulus berdonasi agar pagoda memiliki dana untuk memperindah lingkungan. Sementara itu, Luong Thi Diem dari Komune Thieu Trung menekankan prinsip “hadiah kecil, tetapi hati yang besar,” yakni setiap orang menyumbang sedikit untuk membantu pengurus memperbaiki situs, membangun fasilitas pendukung, merawat lanskap, atau menyelenggarakan kegiatan budaya dan spiritual bagi masyarakat.

Memberi sumbangan di awal tahun disebut sebagai bagian dari kehidupan spiritual dan budaya yang telah mengakar. Namun, agar tradisi ini bertahan dalam jangka panjang, transparansi pengelolaan dan penggunaan dana menjadi kunci. Transparansi dipandang bukan semata tanggung jawab pengurus kuil atau situs bersejarah, melainkan juga cara menjaga kepercayaan publik, memperkuat nilai moral sosial, serta memastikan pelestarian dan pengembangan situs-situs bersejarah dan tempat ibadah di Thanh Hoa.