Persyaratan pasar impor yang semakin ketat mendorong pelaku usaha dan petani di Provinsi Gia Lai mempercepat digitalisasi area bahan baku. Digitalisasi dipandang sebagai langkah penting untuk mempertahankan sekaligus memperluas pasar ekspor, seiring meningkatnya tuntutan terhadap ketelusuran dan transparansi data produksi.
Ketelusuran kini tidak lagi cukup mengandalkan pencatatan manual. Data mengenai area penanaman, proses budidaya, jadwal panen, hingga pengemasan perlu didigitalisasi agar informasi tersedia secara lengkap, transparan, dan dapat diverifikasi. Bagi banyak pasar impor utama produk pertanian, informasi semacam ini menjadi persyaratan wajib.
Di sentra produksi markisa di Kelurahan An Phu, Gia Lai, petani Tran Van Ha telah menekuni budidaya markisa lebih dari 15 tahun dan bergabung dalam rantai pasok Nafoods Group JSC selama empat tahun. Melalui kemitraan tersebut, proses produksi keluarganya dikelola dengan sistem ketelusuran dan memenuhi standar ekspor untuk sejumlah pasar utama di Eropa dan Timur Tengah.
Tran Van Ha menyampaikan bahwa sebelumnya harga markisa sangat bergantung pada kondisi pasar. Namun sejak 2022, setelah mendapatkan pendampingan untuk menerapkan ketelusuran, harga produk keluarganya menjadi lebih stabil karena memenuhi persyaratan ekspor ke pasar yang dinilai bereputasi.
Untuk memperluas dukungan kepada petani setempat, Nafoods Group JSC melakukan uji coba digitalisasi data area penanaman markisa di Gia Lai bersama tiga koperasi dan bisnis afiliasi. Program ini melibatkan sekitar 150 rumah tangga. Informasi budidaya, penggunaan bahan, dan panen diperbarui melalui platform digital, sehingga perusahaan dapat mengontrol kualitas bahan baku, sementara petani dapat memantau proses teknis melalui perangkat pintar.
Direktur Jenderal Nafoods Group JSC, Nguyen Manh Hung, mengatakan perusahaan menerapkan teknologi untuk mendigitalisasi pelacakan area pertanian guna memenuhi permintaan pasar, meningkatkan efisiensi pengelolaan area bahan baku, serta membantu petani mengakses teknik produksi melalui platform digital. Ia menyebut pendekatan ini sebagai bentuk “rumah sakit digital” bagi tanaman di masa depan.
Penekanan pada data produksi juga disampaikan Wakil Presiden Dewan Bisnis Pertanian Vietnam sekaligus Direktur Jenderal Vinanutrifood Binh Dinh, Nguyen Thi Diem Hang. Menurut dia, banyak pengiriman saat ini mengalami keterlambatan dalam proses bea cukai karena tidak memenuhi persyaratan terkait ketelusuran area penanaman dan fasilitas pengemasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa, selain kualitas produk, data produksi menjadi faktor penentu akses ke pasar ekspor.
Gia Lai memiliki sejumlah komoditas pertanian utama seperti kopi, lada, pisang, markisa, dan durian yang permintaannya tinggi di pasar Tiongkok dan berbagai negara lain. Namun, persyaratan ketelusuran, standar pengemasan, serta transparansi data produksi terus diperketat.
Wakil Direktur Bisnis Beibu Gulf Investment Group (Guangxi, Tiongkok), Lu Le Phuong, menyatakan perusahaan-perusahaan Tiongkok menilai produk pertanian Gia Lai memiliki potensi besar, tetapi memberi perhatian khusus pada sistem ketelusuran yang transparan. Importir juga menginginkan data mengenai volume produksi, jadwal panen, standar pengemasan dan penyimpanan, serta surat muatan elektronik. Menurutnya, data tersebut membantu perencanaan pengadaan secara proaktif, mempercepat proses bea cukai, dan menekan biaya logistik.
Untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar, Pemerintah Provinsi Gia Lai melanjutkan standardisasi area pertanian, memperluas sistem pelacakan elektronik, dan meningkatkan fasilitas pengemasan. Sejak awal tahun ini, provinsi tersebut memperoleh tambahan 90 kode area pertanian dan 13 kode fasilitas pengemasan untuk produk ekspor. Totalnya kini mencapai 400 kode area pertanian yang mencakup lebih dari 12.000 hektar, serta 53 fasilitas pengemasan yang melayani ekspor ke pasar utama seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Direktur Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gia Lai, Duong Minh Duc, mengatakan wilayahnya meningkatkan penerbitan dan pengelolaan kode area penanaman serta sertifikat asal produk untuk memudahkan pelaku usaha memperluas pasar ekspor.
Standardisasi dan digitalisasi data area bahan baku dinilai menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan importir terhadap produk pertanian Gia Lai. Arah pengembangan ini juga dipandang dapat membantu perusahaan, koperasi, dan petani meningkatkan nilai produk serta memperluas pasar ekspor secara stabil dan berkelanjutan.