Laporan lembaga Ember menunjukkan pembangkit listrik tenaga surya dan angin menjadi sumber utama listrik di Uni Eropa sepanjang 2025, mengungguli pembangkit berbahan bakar fosil. Dalam laporan yang dikutip The Guardian pada Sabtu (24/1/2026), listrik dari surya dan angin menyumbang 30 persen pasokan listrik bersih Uni Eropa, sementara batu bara, minyak, dan gas menghasilkan 29 persen.
Analis Ember, Beatrice Petrovich, menyebut capaian tersebut sebagai titik balik strategis bagi Uni Eropa di tengah kekhawatiran tentang ketergantungan pasokan energi dari negara lain. Ia menilai risiko ketergantungan pada bahan bakar fosil semakin nyata di tengah situasi geopolitik yang tidak stabil.
Menurut para analis, pergeseran ini terutama didorong lonjakan pembangkit listrik tenaga surya yang mencatat rekor kontribusi 13 persen terhadap listrik Uni Eropa. Di lima negara, termasuk Belanda, tenaga surya dilaporkan menyumbang lebih dari 20 persen listrik bersih.
Sementara itu, pembangkit listrik tenaga angin sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap menjadi sumber listrik terbesar kedua dengan kontribusi 17 persen. Di sisi lain, penggunaan gas fosil meningkat 8 persen, yang sebagian besar dikaitkan dengan turunnya produksi tenaga air akibat faktor cuaca.
Untuk batu bara, laporan tersebut mencatat penurunan hingga titik terendah sepanjang sejarah, dengan kontribusi kurang dari 10 persen listrik Uni Eropa. Porsi terbesar penggunaan batu bara disebut berasal dari Jerman dan Polandia.
Analis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Petras Katinas, menilai tenaga surya dan angin kian menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Eropa. Ia menyoroti pertumbuhan tenaga surya yang lebih dari 20 persen dalam satu tahun, dan menyatakan tantangan berikutnya bukan lagi pada sisi pembangkitan, melainkan pada kecepatan pembangunan jaringan listrik, baterai, dan fleksibilitas sistem.
Perkembangan ini berlangsung di tengah dinamika geopolitik dengan Amerika Serikat, pemasok utama gas alam cair (LNG). Situasi tersebut mencuat bersamaan dengan ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick juga mengkritik adopsi energi surya dan angin di Eropa, dengan alasan minimnya pabrik baterai domestik berisiko membuat kawasan itu bergantung pada China.
Di sisi kebijakan, Reuters melaporkan pemerintah negara-negara Uni Eropa berencana menegaskan kembali rencana memperluas proyek pembangkit listrik tenaga angin, termasuk pengembangan ladang angin lepas pantai. Rencana tersebut tercantum dalam rancangan deklarasi yang akan ditandatangani para pemimpin negara Uni Eropa.
Dalam pertemuan puncak di Hamburg, Jerman, sembilan negara Eropa sepakat mempercepat pengembangan angin lepas pantai melalui proyek lintas negara. Target kapasitas angin lepas pantai yang ingin dicapai adalah 300 gigawatt (GW) pada 2050. Inggris bersama negara-negara Uni Eropa yang terlibat menyatakan komitmen untuk memenuhi hingga 100 GW dari target itu melalui proyek bersama.
Deklarasi tersebut juga akan ditandatangani oleh Belgia, Prancis, Irlandia, Luksemburg, Belanda, dan Norwegia. Pemerintah-pemerintah Eropa menilai ekspansi energi terbarukan lepas pantai dapat memperkuat ketahanan energi, meningkatkan daya saing industri, memperluas lapangan kerja, serta mendorong kemandirian strategis kawasan.
Meski demikian, rencana ekspansi menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya modal dan komponen, yang sebelumnya sempat menggagalkan sejumlah lelang ladang angin di kawasan Laut Utara. Uni Eropa disebut berencana meningkatkan pembiayaan proyek melalui jaminan anggaran dan skema subsidi.
Keseluruhan langkah ini menegaskan pergeseran berkelanjutan Uni Eropa menuju energi rendah karbon, dengan tenaga surya dan angin yang kini semakin menempati posisi sentral dalam sistem kelistrikan kawasan.

