Survei: Keyakinan Publik terhadap Program Pemerintah Menipis, Kekhawatiran Ekonomi dan Rasa Takut Berpendapat Meningkat

Survei: Keyakinan Publik terhadap Program Pemerintah Menipis, Kekhawatiran Ekonomi dan Rasa Takut Berpendapat Meningkat

JAKARTA — Dinamika demokrasi di Indonesia kembali menguji kualitas relasi antara pemerintah dan warga. Kritik publik yang kian vokal terhadap berbagai kebijakan dinilai bukan semata ancaman, melainkan instrumen penting untuk perbaikan sistem politik.

Temuan National Kawula17 Survey (NKS) Kuartal I Tahun 2026 menunjukkan tingkat keyakinan responden terhadap program pemerintah berada pada posisi yang tipis. Sebanyak 38% responden menyatakan yakin, sementara 32% mengaku tidak yakin. Data ini menggambarkan tantangan besar dalam menjaga dan merawat kepercayaan publik.

Survei tersebut juga mencatat kecemasan warga terhadap sejumlah isu ekonomi mendasar. Kekhawatiran terhadap pengangguran tercatat 45%, disusul harga kebutuhan pokok 43%, serta ketidakpuasan terhadap lapangan kerja yang mencapai 54%.

Rangkaian persoalan itu menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan tidak selalu sejalan dengan keberhasilan pemerintah dalam mengomunikasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat luas.

Di luar isu ekonomi, ruang kebebasan berpendapat turut memperlihatkan sinyal yang patut diwaspadai. Berdasarkan temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2026, sebanyak 12% responden merasa takut berbicara politik, dan 41% lainnya mengaku sering mengalami ketakutan serupa ketika membahas isu-isu kenegaraan.

Secara akademis, kondisi tersebut mengindikasikan adanya persepsi kerentanan di ruang publik yang berpotensi menghambat esensi kebebasan berekspresi yang semestinya terjamin.

Dalam perspektif komunikasi politik, pakar Jay G. Blumler menekankan bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi antara pemerintah, media, dan warga negara. Kritik dipandang sebagai umpan balik sosial yang memberi informasi berharga bagi pengambil kebijakan, termasuk hal-hal yang tidak selalu tertangkap dalam laporan birokrasi formal.

Tantangan pemerintahan di era digital, menurut kerangka tersebut, adalah beralih dari pola komunikasi satu arah menuju kemampuan mendengar yang membangun percakapan publik secara sehat. Publik dinilai cenderung lebih mengapresiasi pemerintah yang membuka dialog, bukan sekadar memberi klarifikasi atas kritik yang muncul.

Pada akhirnya, kepercayaan publik menjadi modal strategis yang tumbuh ketika warga merasa dihargai dan aspirasinya dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.