Wali Kota Bandung Muhammad Farhan merefleksikan satu tahun masa kepemimpinannya dengan menegaskan komitmen untuk memprioritaskan kebutuhan sehari-hari warga, mulai dari pengelolaan sampah, penataan kota, hingga penyediaan ruang publik yang layak.
Farhan menilai satu tahun merupakan waktu yang cukup untuk memahami persoalan kota sekaligus menentukan arah kebijakan ke depan. “Satu tahun sudah saya mengemban amanah sebagai Wali Kota Bandung. Waktu yang tidak panjang untuk menuntaskan seluruh persoalan kota yang kompleks, tetapi cukup untuk belajar, mendengar dan menentukan arah,” kata Farhan di Bandung, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia juga mengakui adanya berbagai kritik dari masyarakat terhadap kinerjanya selama menjabat. Menurut Farhan, pemerintah kota tetap membuka ruang bagi warga untuk menyampaikan pendapat maupun kritik sebagai bagian dari upaya memperbaiki layanan publik. “Sejak awal, kami berkomitmen menjaga agar ruang bagi warga menyampaikan pendapat, termasuk kritik, tetap terbuka. Tugas pemerintah adalah memastikan suara-suara itu tidak berhenti di keluhan, tetapi dijawab dengan perbaikan nyata,” ucapnya.
Selama satu tahun terakhir, Pemerintah Kota Bandung disebut telah mulai menata ulang pendekatan pengelolaan sampah, memperbaiki infrastruktur dasar, serta merevitalisasi sejumlah ruang publik. Farhan menilai aspek-aspek tersebut merupakan hal yang paling dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Farhan turut menyinggung Bandung yang kerap disebut sebagai “kota event”. Menurutnya, julukan itu tidak sepenuhnya keliru karena penyelenggaraan acara dapat menggerakkan ekonomi, memberi ruang ekspresi budaya, dan menarik wisatawan. “Pengalaman sehari-hari itulah yang juga membentuk cara warga memandang kebijakan kota, termasuk ketika Bandung kerap disebut sebagai kota event. Julukan ini tidak sepenuhnya keliru. Event menggerakkan ekonomi, memberi ruang ekspresi budaya dan menarik wisatawan,” kata dia.
Meski demikian, ia menilai penyelenggaraan acara perlu diimbangi dengan dampak yang jelas bagi masyarakat. Farhan mengakui adanya kritik terkait kemacetan, sampah pasca-acara, hingga manfaat jangka panjang bagi warga. Karena itu, ia menekankan perlunya standar yang lebih tegas untuk setiap event ke depan.
“Karena itu, ke depan, setiap event di Kota Bandung harus memenuhi standar yang lebih jelas. Tidak cukup hanya ramai, tetapi harus berdampak. Dampak ekonomi harus terukur, keterlibatan UMKM harus nyata, dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan. Dengan pendekatan ini, event tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kualitas hidup warga,” jelas Farhan.
Selain itu, Farhan menekankan pentingnya integritas pemerintahan dan transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah maupun pengambilan keputusan publik. Ia menilai kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui retorika.
Farhan menggambarkan arah kepemimpinannya dengan kata “merawat”. “Saya memilih kata ‘merawat’ untuk menggambarkan arah kepemimpinan Kota Bandung, bukan sekadar kumpulan proyek, melainkan ruang hidup bersama. Merawat berarti memperhatikan yang kecil, mendengar yang lemah dan memperbaiki yang rusak, sedikit demi sedikit tetapi konsisten,” ucap dia.

