Sebuah spanduk bertuliskan “Kick Politics Out of Football” yang pernah dibentangkan kelompok suporter Viking Cyber di Stadion Siliwangi menjadi penanda keresahan sebagian pendukung sepak bola. Saat itu, Persib disebut tengah ramai dimanfaatkan sebagai alat politik elektoral. Dari momen tersebut muncul pertanyaan yang terus berulang: mungkinkah sepak bola benar-benar lepas dari cengkeraman politik?
Pertanyaan itu dinilai penting, tetapi jawabannya tidak sederhana. Sejak PSSI berdiri pada 1930, sepak bola Indonesia disebut telah bersinggungan erat dengan politik. Hampir sepanjang sejarahnya, posisi Ketua Umum PSSI kerap diisi tokoh politik atau figur yang berada dalam lingkaran kekuasaan. Situasi ini dipandang sebagai konsekuensi dari posisi sepak bola sebagai olahraga paling populer di Indonesia.
Popularitas sepak bola membuatnya memiliki daya tarik luas, menyentuh beragam lapisan sosial, serta membentuk basis massa yang besar dan loyal. Dalam perspektif ilmu sosial, kondisi itu kerap dipahami sebagai modal sosial—sumber daya yang lahir dari relasi dan ikatan di dalam komunitas. Bagi politisi, modal sosial semacam ini dianggap bernilai karena dukungan suporter dapat diterjemahkan menjadi dukungan elektoral, sementara klub bisa menjadi kanal komunikasi politik yang efektif.
Di sisi lain, jabatan Ketua Umum PSSI dipandang tidak semata berkaitan dengan pengelolaan organisasi olahraga. Posisi ini juga menjadikan pemegangnya figur publik yang berinteraksi dengan pemerintah, media, dan pelaku industri. Popularitas yang melekat pada jabatan tersebut disebut kerap dimanfaatkan sebagai panggung nasional, bahkan dianggap dapat menjadi batu loncatan menuju jabatan politik yang lebih tinggi.
Dalam praktik politik, kerap terlihat politisi mengenakan atribut klub atau tim nasional untuk menunjukkan kedekatan dengan publik. Dalam psikologi politik, kesamaan latar belakang atau simbol identitas antara politisi dan pemilih sering dipandang sebagai aset strategis karena dapat menumbuhkan rasa kedekatan dan kepercayaan.
Fenomena keterkaitan sepak bola dan politik juga terjadi di negara lain. Di Italia, Silvio Berlusconi disebut menggunakan AC Milan sebagai kendaraan politik dengan mengakuisisi klub tersebut dan menjadikannya simbol keberhasilan manajerial serta nasionalisme. Sementara di Liberia, George Weah—mantan pemain yang pernah meraih Ballon d'Or 1995—memanfaatkan modal sosial dari sepak bola untuk membangun citra “anak rakyat yang sukses di dunia internasional” hingga kemudian terpilih menjadi presiden.
Lalu, apakah harapan agar sepak bola terbebas dari politik merupakan sikap yang naif? Dalam tulisan ini, harapan itu tidak dinilai naif, melainkan dipahami sebagai cerminan keinginan suporter atas ruang kolektif yang dianggap murni dan jujur. Namun, realitasnya dipandang lebih kompleks karena sepak bola hampir selalu bersinggungan dengan kekuasaan—baik sebagai alat propaganda, simbol identitas, maupun instrumen ekonomi.
Selain politik, tulisan tersebut juga menyoroti masuknya kapitalisme melalui sponsor, hak siar, dan industri merchandise. Perkembangan itu disebut mengubah klub menjadi korporasi dan suporter menjadi konsumen. Stadion yang semestinya menjadi ruang rakyat dinilai kian dipengaruhi tiket mahal dan regulasi yang dianggap menguntungkan segelintir pihak.
Dalam kondisi tersebut, suporter disebut kerap menjadi pihak yang paling rentan. Mereka dipandang bukan sekadar penonton atau angka statistik untuk kebutuhan sponsor maupun kendaraan politik saat pemilu, melainkan aktor sosial dengan identitas, solidaritas, dan suara kolektif. Meski demikian, suara itu disebut sering dibungkam, direduksi, atau dimanipulasi demi kepentingan yang jauh dari semangat sportivitas.
Karena itu, spanduk “Kick Politics Out of Football” dipahami bukan sekadar slogan, melainkan seruan untuk merebut kembali ruang yang dinilai telah lama diambil alih oleh kepentingan kekuasaan. Seruan tersebut juga dimaknai sebagai upaya menjadikan sepak bola sebagai milik bersama, bukan alat segelintir elite—sebuah harapan yang, menurut tulisan itu, tetap hidup di tribun, mural, chant, dan solidaritas suporter.

