Jakarta—Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 mendapat sorotan dari pengamat politik Samuel F. Silaen. Ia menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian nasional dan berpotensi menimbulkan persepsi semu di tengah masyarakat.
Dalam keterangan kepada awak media, Rabu (6/5/2026), Samuel mengatakan publik perlu membaca data pertumbuhan ekonomi pemerintah secara lebih kritis dan komprehensif. Menurutnya, indikator makroekonomi tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial dan tekanan yang dirasakan masyarakat.
“Angka pertumbuhan itu tampak impresif di atas kertas, namun realitas di lapangan menunjukkan situasi yang berbeda. Jangan sampai publik dibawa pada optimisme statistik yang tidak sepenuhnya selaras dengan kondisi ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Samuel menyebut Indonesia berada dalam fase transisi ekonomi yang penuh risiko dan belum sepenuhnya stabil. Ia menilai ada pergeseran dari sekadar penyesuaian harga pasar menuju potensi tekanan sistemik yang bisa merambat ke berbagai sektor.
“Pertumbuhan 5,61 persen justru perlu diuji lebih dalam. Apakah benar ditopang fondasi ekonomi yang kokoh, atau hanya menjadi jeda sementara sebelum tekanan yang lebih besar muncul?” kata Samuel.
Ia menggambarkan kondisi ekonomi nasional seperti “pesta di lantai atas”, sementara fondasi di bawah mulai retak. Samuel menyoroti sejumlah indikator pasar yang dinilainya tidak sejalan dengan narasi pertumbuhan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga meningkatnya credit default swap (CDS) dan yield obligasi negara.
Menurutnya, depresiasi rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar Amerika Serikat merupakan sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya kehati-hatian pasar terhadap risiko ekonomi Indonesia.
“Pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap tingkat risiko Indonesia. Ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan sinyal bahwa tingkat kepercayaan mulai mengalami tekanan,” tegasnya.
Samuel juga menilai persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari pendekatan teknokratis semata, melainkan perlu dipahami dalam perspektif ekonomi-politik yang lebih luas. Ia mengingatkan angka pertumbuhan kerap dijadikan instrumen legitimasi politik jangka pendek tanpa evaluasi mendalam terhadap kualitas pertumbuhan.
“Pemerintah tentu dapat menyampaikan bahwa ekonomi masih bergerak karena konsumsi tetap tumbuh dan investasi belum terkoreksi tajam. Namun pelemahan rupiah yang terus berlangsung justru menjadi indikator yang membocorkan optimisme tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah dapat memicu dampak berantai, mulai dari kenaikan biaya impor, tekanan inflasi, hingga potensi kenaikan suku bunga.
“Ketika nilai tukar melemah, dampaknya bukan hanya terjadi di pasar keuangan. Beban ekonomi masyarakat akan ikut meningkat karena harga barang dan biaya produksi ikut terdorong naik,” kata Samuel.
Dalam situasi ini, ia menilai Bank Indonesia berada pada posisi yang tidak mudah. Kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah berisiko menekan pertumbuhan, sementara mempertahankan suku bunga dapat memperdalam tekanan terhadap mata uang.
“Semua pilihan memiliki konsekuensi. Di sinilah tantangan besar pengambil kebijakan, yakni menyeimbangkan kepentingan jangka pendek dan stabilitas jangka panjang,” ujarnya.
Dari sisi fiskal, Samuel menilai pemerintah juga menghadapi tekanan untuk menjaga kredibilitas APBN di tengah meningkatnya beban subsidi energi dan pangan serta ketidakpastian global.
“Jika subsidi terus membengkak, ruang fiskal untuk sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan manusia akan semakin sempit. Ini persoalan fundamental yang harus diantisipasi sejak dini,” tuturnya.
Ia turut menyoroti struktur pertumbuhan ekonomi yang dinilai belum merata. Menurutnya, konsumsi domestik masih bergerak, tetapi sebagian ditopang stimulus dan bantuan pemerintah, sementara kelompok masyarakat menengah mulai mengalami tekanan daya beli.
“Sektor padat karya mulai menghadapi tantangan serius, sementara kelompok masyarakat bawah semakin rentan. Jika ketimpangan terus melebar, maka risiko sosial juga akan ikut meningkat,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Samuel menekankan bahwa indikator paling jujur untuk membaca kondisi ekonomi adalah kemampuan masyarakat bertahan dalam kehidupan sehari-hari.
“Daya tahan ekonomi rakyat adalah cermin paling nyata. Ketika tabungan mulai menipis, konsumsi melemah, dan masyarakat semakin berhati-hati membelanjakan uangnya, itu menandakan ada tekanan yang benar-benar dirasakan di akar rumput,” pungkasnya.