India, pembeli minyak nabati terbesar di dunia, mulai mengurangi pembelian minyak kedelai dari Amerika Selatan seiring melemahnya nilai tukar rupee yang jatuh ke level terendah sepanjang sejarah. Kondisi tersebut membuat harga minyak impor kian mahal dan memperlebar selisih harga dengan minyak nabati di pasar domestik.
Menurut laporan Bloomberg pada Sabtu (24/1/2026), India membatalkan pengiriman minyak kedelai dari Brasil dan Argentina sebesar 35.000–40.000 ton. Volume itu sebelumnya dipesan untuk pengiriman Februari serta periode April–Juli. Total pembatalan disebut berpotensi melampaui 50.000 ton.
Informasi itu disampaikan Aashish Acharya, Wakil Presiden Patanjali Foods Ltd., salah satu pembeli minyak nabati terbesar di India. Sejumlah pedagang lain yang dihubungi Bloomberg juga mengonfirmasi adanya pembatalan tersebut.
Pembatalan terbaru menambah daftar aksi serupa yang terjadi sebelumnya. Pada Desember, pembeli India dilaporkan mundur dari kontrak minyak kedelai asal Argentina lebih dari 100.000 ton, setara sekitar 20% dari volume impor minyak nabati India dalam satu bulan.
India masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan minyak makan. Sekitar 60% konsumsi minyak makan di negara itu dipenuhi dari pembelian luar negeri.
Acharya menyebut kombinasi rupee yang melemah dan kenaikan harga global membuat minyak kedelai dari Amerika Selatan diperdagangkan sekitar US$25–US$30 per ton lebih mahal dibanding pasokan lokal. Dengan selisih tersebut, impor dinilai tidak ekonomis sehingga pembeli memilih melakukan “cash out” atau membatalkan kontrak pengiriman.
Di saat yang sama, perhatian pembeli mulai beralih ke minyak nabati tropis yang dinilai lebih menarik karena diperdagangkan dengan diskon. Data Bloomberg menunjukkan premi minyak kedelai terhadap minyak sawit meningkat tajam. Selisih harga keduanya disebut telah berlipat ganda sejak awal tahun, dengan premi minyak kedelai terhadap sawit kini sekitar US$145 per ton.
Tekanan harga juga datang dari sisi pasokan. Stok minyak kedelai Amerika Selatan disebut semakin ketat setelah China meningkatkan pembelian kedelai, sehingga mengurangi ketersediaan bahan baku untuk dihancurkan (crushing) menjadi minyak. Bloomberg juga mencatat harga minyak kedelai Argentina untuk pengiriman dekat berada pada level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, berdasarkan data Commodity3.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak kedelai global disebut belum sepenuhnya tercermin di pasar India. Pelemahan rupee membuat harga lokal tidak bergerak sejalan, sehingga membuka peluang pembatalan impor minyak kedelai lebih lanjut dan mendorong pergeseran permintaan ke minyak sawit.
“Ketidaksesuaian ini bisa memicu lebih banyak pembatalan pembelian minyak kedelai dan mendorong impor minyak sawit,” ujar Mayur Toshniwal, Presiden sekaligus Head of Trading di Emami Agrotech Ltd., seperti dikutip Bloomberg.
Perkembangan ini menjadi sinyal penting bagi pasar minyak nabati global. Ketika biaya impor minyak kedelai melonjak, minyak sawit berpotensi kembali menjadi opsi utama bagi negara-negara yang sensitif terhadap harga seperti India, yang selama ini menjadi salah satu pasar strategis bagi perdagangan minyak nabati dunia.

