Riset Universitas Granada: Susu Kambing Dinilai Punya Profil Gizi Mendekati ASI dan Berpotensi Dukung Energi Saat Puasa

Riset Universitas Granada: Susu Kambing Dinilai Punya Profil Gizi Mendekati ASI dan Berpotensi Dukung Energi Saat Puasa

MALANG — Sejumlah literatur menyoroti manfaat susu kambing bagi kesehatan. Salah satunya riset dari Universitas Granada, Spanyol, yang menyebut susu kambing memiliki karakteristik nutrisi yang dinilai mendekati air susu ibu (ASI) serta berpotensi memberi dampak positif pada kesehatan metabolik, pencernaan, hingga sistem imunitas.

Riset tersebut dilakukan oleh Kelompok Penelitian AGR-206 di Departemen Fisiologi dan Institute of Nutrition and Food Technology “José Mataix” Universitas Granada, dan dikoordinasikan Profesor Margarita Sánchez Campos, pakar fisiologi dan nutrisi. Ia menyatakan susu kambing memiliki komposisi nutrisi yang unik dan fungsional.

Menurut Sánchez Campos, konsumsi susu kambing secara teratur disebut dapat membantu pemulihan pada individu dengan anemia defisiensi besi. Hal itu dikaitkan dengan peningkatan pemanfaatan zat besi dan regenerasi hemoglobin, serta kemampuan susu kambing meminimalkan interaksi negatif antara kalsium dan zat besi.

Penelitian yang sama juga menyebut susu kambing dapat melindungi stabilitas DNA, termasuk pada kondisi kelebihan zat besi akibat terapi jangka panjang untuk pengobatan anemia. Temuan ini dipandang menunjukkan peran susu kambing dalam membantu menjaga keseimbangan metabolisme mineral tubuh.

Salah satu temuan yang disorot adalah kemiripan komposisi susu kambing dengan ASI. Para peneliti menyatakan susu kambing mengandung berbagai nutrisi penting, termasuk kasein, namun dengan karakteristik yang berbeda dibanding susu sapi.

Dalam riset itu disebutkan susu kambing mengandung lebih sedikit kasein alfa-1, protein yang dikenal sebagai salah satu pemicu utama alergi pada susu sapi. Karena itu, susu kambing dinilai lebih hipoalergenik. Sánchez Campos menyebut, di beberapa negara susu kambing digunakan sebagai dasar pengembangan susu formula bayi sebagai alternatif susu sapi.

Karakteristik tersebut dinilai relevan bagi individu yang memiliki sensitivitas pencernaan, termasuk mereka yang mengalami gangguan saluran cerna selama puasa.

Keunggulan lain yang dicatat adalah kandungan oligosakarida yang signifikan, dengan struktur yang disebut mirip oligosakarida dalam ASI. Senyawa ini tidak dicerna di usus halus, melainkan mencapai usus besar dan berfungsi sebagai prebiotik yang membantu pertumbuhan flora probiotik. Flora ini berperan menekan pertumbuhan bakteri patogen, sehingga berkontribusi pada kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh—hal yang dinilai penting ketika perubahan pola makan selama Ramadan kerap memicu gangguan pencernaan.

Universitas Granada juga mencatat kandungan laktosa susu kambing sekitar 1 persen lebih rendah dibanding susu sapi. Ditambah struktur lemak yang lebih halus, susu kambing disebut lebih mudah dicerna. Kondisi ini memungkinkan individu dengan intoleransi laktosa ringan tetap dapat mengonsumsinya tanpa keluhan berarti.

Dari sisi profil lemak, susu kambing dilaporkan mengandung 30–35 persen asam lemak rantai menengah (Medium Chain Triglycerides/MCT), sedangkan susu sapi sekitar 15–20 persen. Asam lemak jenis ini disebut cepat diubah menjadi energi dan tidak disimpan sebagai lemak tubuh, sehingga dinilai relevan untuk mendukung aktivitas harian dan stamina selama puasa. Selain itu, susu kambing disebut mengandung lebih banyak asam lemak esensial linoleat dan arakidonat (omega-6) yang berperan dalam fungsi sel dan metabolisme energi.

Para peneliti juga menyatakan konsumsi susu kambing berdampak positif terhadap profil lipid tubuh. Lemak susu kambing disebut dapat menurunkan kadar kolesterol total serta menjaga kadar trigliserida dan enzim hati (GOT dan GPT) tetap stabil. Temuan ini membuat susu kambing dipandang berpotensi mendukung pencegahan penyakit jantung.

Dari aspek mineral, susu kambing disebut kaya kalsium dan fosfor dengan tingkat bioavailabilitas tinggi. Sánchez Campos menyatakan kandungan mineral tersebut mendukung pengendapan mineral dalam matriks organik tulang, sehingga meningkatkan parameter pembentukan tulang. Selain itu, kandungan seng dan selenium yang lebih tinggi disebut berperan sebagai antioksidan dan dikaitkan dengan pencegahan penyakit neurodegeneratif.

Berdasarkan temuan-temuan itu, peneliti Universitas Granada menyimpulkan susu kambing layak dikategorikan sebagai makanan fungsional alami. Mereka juga menyebut konsumsi susu kambing secara teratur perlu dipromosikan, terutama bagi individu yang alergi atau intoleransi terhadap susu sapi, mengalami malabsorpsi, kolesterol tinggi, anemia, osteoporosis, atau menjalani terapi zat besi jangka panjang.

Dalam konteks Ramadan, susu kambing disebut dapat menjadi pilihan asupan bergizi saat sahur atau berbuka. Kandungan protein, mineral, prebiotik, dan MCT dinilai mendukung energi berkelanjutan, pencernaan sehat, dan daya tahan tubuh, tanpa membebani sistem cerna.

Artikel sumber juga menyebut salah satu produk yang direkomendasikan, yakni Etawaku Platinum. Mengutip keterangan dari laman resminya, produk tersebut merupakan susu kambing etawa yang diformulasikan dari bahan susu etawa premium, rendah gula, rendah lemak, serta diklaim bebas pengawet dan pewarna. Produk itu juga disebut diproses pada suhu dingin untuk menjaga kandungan susu kambing etawa. Selain itu, disebutkan produk tersebut ditujukan untuk membantu perawatan sistem pernapasan, menjaga fungsi tulang dan sendi, serta melancarkan pencernaan, dan memuat klaim terkait kandungan fluor(in) dan betakasein untuk gangguan sistem pernapasan.