PT Vale Indonesia Tbk merespons perhatian publik terkait pengembangan proyek fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) di Sambalagi, Morowali. Perusahaan menilai partisipasi masyarakat dan sorotan media sebagai dinamika yang konstruktif untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, serta penguatan tata kelola industri pertambangan di Indonesia.
Perseroan menyatakan seluruh kegiatan usaha dijalankan berdasarkan prinsip Good Corporate Governance, kepatuhan pada peraturan perundang-undangan, serta penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diakui secara internasional. PT Vale juga menyebut setiap proyek strategis, termasuk pembangunan fasilitas HPAL yang menjadi bagian dari Indonesia Growth Project Morowali, telah melalui proses perencanaan, perizinan, kajian teknis, hingga pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Saat ini, pembangunan fasilitas HPAL di Sambalagi berada pada tahap konstruksi dengan progres sekitar 21,54 persen. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Menurut perusahaan, pembangunan fasilitas pengolahan ini merupakan bagian dari upaya mendukung agenda hilirisasi industri nikel nasional. Proyek tersebut juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global bahan baku baterai kendaraan listrik dan teknologi energi bersih.
Dalam pelaksanaannya, PT Vale menyatakan seluruh aspek pengembangan proyek dijalankan sesuai standar teknis dan regulasi yang berlaku. Ruang lingkupnya meliputi tata kelola investasi, keselamatan dan kesehatan kerja, serta pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup dengan prinsip kehati-hatian.
Perusahaan juga menyatakan terbuka terhadap mekanisme pengawasan, evaluasi, maupun audit dari otoritas berwenang sebagai bagian dari komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya alam.
Sejalan dengan pembangunan fasilitas tersebut, hingga awal 2026 PT Vale melaporkan telah melakukan penjualan bijih nikel jenis saprolite sekitar 2,2 juta wet metric ton. Penjualan itu disebut dilakukan secara terukur dan mengikuti ketentuan pemerintah yang berlaku, sebagai strategi menjaga kesinambungan operasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya mineral nasional selama proses penyelesaian fasilitas hilirisasi berlangsung.
Selain fokus pada pengembangan industri, perusahaan menyatakan terus memperkuat kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan melalui sejumlah inisiatif, termasuk pengembangan fasilitas nursery untuk mendukung rehabilitasi lahan pascatambang serta program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Program tersebut disebut dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
PT Vale menegaskan pengelolaan sumber daya mineral strategis perlu dilakukan secara bertanggung jawab dan transparan agar mampu memberikan nilai tambah bagi negara dan masyarakat. Karena itu, perusahaan menyatakan akan terus mendorong dialog konstruktif dengan berbagai pemangku kepentingan agar pengembangan proyek berjalan sesuai regulasi, memperhatikan perlindungan lingkungan, dan mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

