PT Dexin Steel Indonesia (DSI) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas total 65,89 MWp di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Proyek ini disebut sebagai bagian dari komitmen perusahaan dan pengelola kawasan industri untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, serta menekan emisi karbon seiring meningkatnya kebutuhan listrik industri.
PLTS atap tersebut dikembangkan dengan konsep tenaga surya terdistribusi berbasis atap bangunan industri yang telah ada, sehingga tidak memerlukan pembukaan lahan baru. Dalam proyek ini, sebanyak 119.800 panel surya silikon monokristalin berdaya efisiensi tinggi dipasang di area atap seluas sekitar 396.700 meter persegi. Sistemnya juga dilengkapi fasilitas penyimpanan energi sebesar 22 MW/22 MWh untuk menjaga stabilitas pasokan listrik.
Perwakilan Manajemen PT DSI, Cui Bao Yong, mengatakan pemanfaatan atap fasilitas industri memungkinkan optimalisasi ruang sekaligus meminimalkan dampak lingkungan. Pengembangan PLTS atap ini dilakukan melalui koordinasi dan persetujuan manajemen PT IMIP selaku pengelola kawasan industri, dengan dukungan teknis dari Departemen Land Planning and Infrastructure, terutama terkait kelistrikan dan stabilitas jaringan.
Pengerjaan proyek dilakukan oleh Longyuan Weide, mitra PT DSI asal Tiongkok yang bergerak di bidang pembangunan energi terbarukan, mulai dari tahap konstruksi hingga operasi komersial.
Cui Bao Yong menjelaskan, pembangunan PLTS berkapasitas 18 MW untuk pabrik bahan baku telah mencapai sekitar 80 persen. Sementara itu, pengembangan panel surya berkapasitas 47,89 MW masih berada pada tahap perencanaan. Adapun proses penghubungan ke jaringan listrik kawasan disebut masih dalam tahap negosiasi.
Menurutnya, apabila terjadi kelebihan produksi listrik, energi tersebut dapat disalurkan ke jaringan listrik kawasan industri. Dari sisi lingkungan, pengoperasian PLTS atap PT DSI diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon dioksida lebih dari 81 ribu ton per tahun. Untuk proyek berkapasitas 18 MW saja, potensi penurunan emisi karbon diperkirakan mencapai 14.250–17.500 ton per tahun.
Pemanfaatan energi surya ini juga dinilai berpotensi mengurangi konsumsi batu bara serta menekan emisi nitrogen oksida dan sulfur dioksida. Pengembangan PLTS atap tersebut disebut sejalan dengan strategi keberlanjutan PT DSI dan PT IMIP dalam mendukung peningkatan kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060.
“Kami (PT DSI dan IMIP) memandang energi terbarukan sebagai investasi jangka panjang yang memberikan manfaat berlapis, tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga sosial dan lingkungan,” kata Cui Bao Yong.

