Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dikenal kerap berbicara lantang di depan publik. Gaya bicaranya yang tegas dan keras, dalam beberapa kesempatan, dinilai menyakitkan sebagian pihak.
Terbaru, pernyataan Ahok terkait kenakalan pelajar memicu pro dan kontra. Ia menyebut pelajar nakal yang kerap berbuat onar, brutal, dan terus mengulang kesalahan sebagai “calon bajingan”.
Menanggapi polemik itu, pakar psikologi politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menilai gaya bicara Ahok tidak menjadi masalah selama ditujukan untuk bekerja demi kepentingan rakyat. Hamdi menyebut cara komunikasi tersebut sudah menjadi bagian dari gaya kepemimpinan Ahok dan tetap mendapat dukungan dari banyak orang.
Menurut Hamdi, ucapan keras yang kerap disampaikan Ahok pada dasarnya memiliki maksud baik dan didorong oleh kepedulian kepada masyarakat. Karena itu, ia menilai hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan.
Hamdi juga menilai Ahok tidak pernah takut dengan pernyataannya. Ia mencontohkan, Ahok pernah menegaskan siap diturunkan dari jabatan Wakil Gubernur DKI apabila warga tidak menyukai ucapannya. Hamdi menambahkan, ketika Ahok merasa kesal, ia cenderung berbicara blak-blakan dan tidak dibuat-buat menjadi santun. Namun, Hamdi menilai hal itu dilakukan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.
Pandangan berbeda disampaikan Komisioner Satgas Perlindungan Anak (Satgas PA) M Ihsan. Ihsan menilai pernyataan Ahok yang menyebut pelajar nakal sebagai “calon bajingan” tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin. Ia menyatakan terkejut membaca pernyataan tersebut dan menekankan tidak ada orang tua yang dapat menerima jika anaknya disebut demikian.
Ahok sebelumnya juga pernah melontarkan pernyataan tajam kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dalam polemik terkait Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli. Saat itu, Ahok meminta Gamawan belajar konstitusi karena menilai permintaan Mendagri untuk memindahkan Lurah Susan tidak tepat. Ahok mengatakan Indonesia adalah negara Pancasila dan bukan ditentukan oleh penolakan atau penerimaan pihak tertentu.