Prasasti Silwan dan Memanasnya Ketegangan Erdogan–Netanyahu

Prasasti Silwan dan Memanasnya Ketegangan Erdogan–Netanyahu

Ketegangan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menguat setelah isu sebuah prasasti kuno dari kawasan Silwan, Yerusalem, mendadak mencuat ke ruang publik. Prasasti tersebut, yang disebut berada di Turki, diangkat Netanyahu dalam sebuah acara peresmian “terowongan kuno” di Yerusalem pada pertengahan September.

Dalam acara itu, Netanyahu menyatakan prasasti Silwan sebagai bukti historis keterkaitan orang Yahudi dengan Yerusalem. Ia juga menegaskan bahwa dirinya telah berupaya memulangkan artefak tersebut sejak akhir 1990-an. Pernyataan itu disampaikan di hadapan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, sekaligus disertai nada menantang kepada Erdogan.

Menurut Netanyahu, Yerusalem adalah “milik” Israel dan “tidak akan pernah terbagi lagi”. Ia mengaitkan penegasan tersebut dengan pengakuan Presiden Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan memilih menyampaikannya di forum yang menghadirkan pejabat tinggi Amerika.

Permintaan Israel atas prasasti Silwan bukan hal baru. Pada 2007, Wali Kota Yerusalem saat itu, Uri Lupolianski, disebut meminta langsung kepada Duta Besar Turki di Tel Aviv. Pada 2017, Menteri Kebudayaan Israel Miri Regev juga mencoba membujuk Ankara, termasuk dengan tawaran dua ekor gajah untuk kebun binatang di Gaziantep. Pada 2022, Presiden Israel Isaac Herzog kembali mengangkat isu serupa dalam rangkaian normalisasi hubungan dengan Turki. Berbagai upaya tersebut dilaporkan ditolak.

Prasasti Silwan sendiri merupakan artefak yang ditemukan pada 1880 di sebuah terowongan di Yerusalem ketika wilayah itu masih berada di bawah Kesultanan Utsmaniyah. Prasasti itu mengisahkan pembangunan saluran air kuno yang berfungsi memasok air ke kota. Dalam catatan yang beredar, sekitar 3.000 tahun silam Yerusalem dikepung bangsa Asyur dan Raja Hizkia memutuskan menggali terowongan yang menghubungkan sumber air ke dalam kota. Setelah proyek itu selesai, dibuat inskripsi berbahasa Ibrani pada lempengan batu di pintu masuk terowongan.

Pada masa awal penemuannya, prasasti tersebut disebut tidak memicu perdebatan besar karena negara Israel belum berdiri dan artefak itu dipandang sebagai benda arkeologis. Seiring waktu, prasasti itu dipugar dan dikirim ke Museum Kekaisaran di Istanbul. Sejumlah replika kemudian dibuat, termasuk yang keasliannya diragukan, sementara naskah asli tetap tersimpan di Turki.

Polemik terbaru muncul ketika Netanyahu memilih untuk mengangkat kembali artefak yang selama puluhan tahun lebih dikenal sebagai koleksi museum. Dalam narasi yang disampaikan, prasasti itu diposisikan bukan semata warisan arkeologis, melainkan bagian dari penguatan klaim historis Israel atas Yerusalem.

Langkah Netanyahu juga dibaca sebagai bagian dari perseteruan politik yang lebih luas dengan Erdogan, yang selama ini dikenal lantang mengkritik kebijakan Israel dan menyuarakan dukungan bagi Palestina. Dalam tulisan opini yang menjadi dasar artikel ini, disebutkan bahwa momentum dan panggung pernyataan Netanyahu dipilih secara sengaja: Yerusalem sebagai lokasi simbolik, kehadiran pejabat tinggi Amerika sebagai saksi, serta situasi perang yang masih berlangsung di Gaza dan adanya KTT Arab-Islam di Doha yang menyoroti agresi Israel.

Di sisi lain, Erdogan pernah menyampaikan pidato pada Oktober 2020 di parlemen Turki yang menegaskan Yerusalem sebagai kota suci bagi umat Islam, sekaligus tempat suci bagi umat Kristen dan Yahudi, serta menyebut penjajahan atas Palestina sebagai pelanggaran yang harus ditentang. Pidato itu disebut menjadi salah satu latar yang terus diingat Netanyahu, hingga kemudian dibalas dalam momen yang dinilai sarat simbol.

Dalam perspektif penulis opini, Netanyahu menggunakan isu prasasti Silwan untuk mengirim sejumlah pesan politik: mempertegas arah konfrontasi dengan Turki, menilai keberlanjutan kepemimpinan Erdogan sebagai tantangan bagi proyek Zionis di kawasan, serta menyampaikan sinyal kepada Washington di tengah dinamika hubungan Ankara–Washington yang disebut membaik. Disebut pula bahwa Erdogan dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat pada 25 September, yang menurut tulisan itu menambah kegelisahan Netanyahu.

Selain itu, Netanyahu dinilai ingin menunjukkan kepada forum Arab-Islam bahwa Israel tidak akan sendirian, dengan menampilkan dukungan Amerika dalam bingkai “warisan bersama Yahudi-Kristen”. Ia juga disebut berupaya menegaskan klaim atas “ke-Yahudi-an” Yerusalem untuk menutup ruang gagasan lahirnya negara Palestina merdeka, termasuk di hadapan komunitas internasional dan negara-negara Eropa yang masih mendorong pengakuan lebih luas bagi Palestina.

Pada akhirnya, isu prasasti kuno yang lama tersimpan di Turki kembali menjadi pemantik ketegangan diplomatik. Dalam opini tersebut, langkah Netanyahu dipandang sebagai permainan simbolik untuk menguatkan narasi historis Israel, namun sekaligus berpotensi menguatkan citra Erdogan di mata publik Turki dan dunia Islam sebagai pemimpin yang konsisten menentang proyek Zionis sejak masa awal karier politiknya.