Politik Hari Ini: Ketika Loyalitas Mudah Bergeser dan Integritas Dipertaruhkan

Politik Hari Ini: Ketika Loyalitas Mudah Bergeser dan Integritas Dipertaruhkan

Penulis mengawali refleksinya dari sebuah momen sepak bola yang ia lewatkan: laga Liga Champions antara Paris Saint-Germain (PSG) melawan Manchester United (MU) di Parc des Princes pada 6 Maret 2019. MU, yang sebelumnya kalah 0-2 di kandang sendiri, secara mengejutkan menang 3-1 di Paris dan lolos lewat agregat, termasuk gol penentu di masa injury time.

Menurut penulis, pertandingan itu menegaskan satu pelajaran klasik dalam sepak bola: tidak ada hasil yang benar-benar pasti. PSG datang dengan keunggulan agregat dan deretan pemain bintang, sementara MU disebut tidak ideal karena sekitar 10 pemain cedera dan Paul Pogba absen akibat kartu merah pada leg pertama. Namun, keterbatasan itu justru melahirkan kejutan, ditopang semangat baru di bawah pelatih Ole Gunnar Solskjaer setelah era Jose Mourinho berakhir.

Penulis kemudian mengingatkan bahwa drama serupa kerap terjadi dalam sejarah Liga Champions. PSG pernah mengalami pembalikan agregat saat menghadapi Barcelona pada 2017, ketika menang 4-0 di leg pertama namun kalah 6-1 di leg kedua. Contoh lain yang disebut adalah Barcelona melawan AC Milan pada musim 2012/2013, Napoli melawan Chelsea pada 2011/2012, serta sejumlah laga lain yang berakhir dengan perubahan nasib dalam dua leg.

Dari sepak bola, penulis menarik garis ke dinamika politik. Ia menilai pola “drama” dan perubahan yang cepat juga terlihat dalam politik Indonesia, termasuk pergeseran dukungan yang terjadi di kalangan pendukung dan relawan. Relawan yang semula mendukung satu tokoh dapat berpindah ke tokoh lain, dan garis dukungan dinilai cair serta tidak permanen.

Beberapa kelompok relawan yang dikenal publik disebut mengalami perubahan arah dukungan seiring dinamika politik terbaru. Penulis mencontohkan Projo (Pro Jokowi) yang sejak 2014 dikenal sebagai basis pendukung kuat Joko Widodo, namun dalam perkembangan terakhir disebut mengubah arah dukungan. Ia juga menyinggung Bara JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden) yang disebut mengalami pergeseran sikap politik pada fase berbeda.

Penulis mengaitkan fenomena tersebut dengan karakter pemilih yang dinilai pragmatis. Ia merujuk catatan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia yang pernah menyebut swing voters atau pemilih mengambang dapat mencapai lebih dari 30% dalam beberapa pemilu. Bagi penulis, angka itu menggambarkan bahwa loyalitas politik tidak selalu didorong ideologi, melainkan bisa fleksibel.

Dalam pandangannya, relawan politik menjadi menarik karena tidak selalu terikat pada struktur formal partai. Mereka bergerak cair dan kerap mengikuti momentum. Penulis menilai, dalam banyak kasus, perubahan dukungan tidak selalu didorong visi atau ideologi, melainkan kedekatan pada akses kekuasaan, termasuk harapan memperoleh posisi, jabatan, atau keuntungan ekonomi.

Di titik ini, penulis menekankan pentingnya integritas. Ia menilai realitas politik kerap memperlihatkan bahwa sebagian orang lebih takut kehilangan akses ekonomi dibanding kehilangan integritas—mulai dari proyek, fasilitas, hingga jabatan. Loyalitas, menurutnya, bisa dinegosiasikan dan prinsip dapat ditunda demi tetap “bermain”.

Meski politik bisa dianalogikan seperti pertandingan yang penuh strategi dan hitungan, penulis menggarisbawahi satu perbedaan penting: sepak bola selesai dalam 90 menit, sementara dampak politik dapat panjang karena berhubungan dengan kebijakan. Karena itu, ia berpendapat semestinya ada batas yang tidak boleh dilanggar dalam politik, yaitu moral dan integritas.

Penulis menilai dua hal tersebut justru sering dikorbankan demi posisi, kekuasaan, dan keuntungan jangka pendek. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang, tetapi juga bagaimana kemenangan itu diraih. Ia juga berpendapat publik mungkin bisa lupa pada janji kampanye, tetapi tidak mudah lupa pada sikap.

Di bagian akhir, penulis kembali menegaskan bahwa perubahan dukungan—baik di kalangan relawan maupun pemilih—bisa terjadi sewaktu-waktu, sebagaimana keunggulan dalam sepak bola dapat runtuh dalam hitungan menit. Namun, ia menilai satu hal yang seharusnya tidak ikut berubah adalah integritas. Menurutnya, di tengah ketidakpastian politik, moral menjadi jangkar yang menentukan bagaimana seseorang dikenang setelah “pertandingan” selesai.

Penulis menutup dengan nada kritis terhadap anggapan bahwa loyalitas politisi kepada masyarakat dapat dijamin. Ia menyatakan loyalitas kerap lebih condong pada pemberi kuasa dan hal-hal material yang menyertainya, serta menilai kecenderungan tersebut tidak hanya terjadi pada politisi, tetapi juga pada sebagian pendukung.