Peserta Paket Kesetaraan di SKB Blora Meningkat, Banyak Berasal dari Pekerja Seni

Peserta Paket Kesetaraan di SKB Blora Meningkat, Banyak Berasal dari Pekerja Seni

BLORA — Tren warga yang menempuh pendidikan melalui program paket kesetaraan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora terus meningkat. Setiap tahun, jumlah lulusan dari Paket A hingga Paket C tercatat berada di atas 100 orang.

Kepala SKB Blora, Jumini, menyebutkan kelulusan tahunan didominasi peserta Paket C (setara SMA). Rinciannya, Paket A sekitar 10 siswa, Paket B sekitar 20 siswa, dan Paket C sekitar 80 siswa. “Total siswa kita dari PAUD hingga SMA itu mencapai 1.200 siswa. Untuk PAUD sendiri ada 120 siswa, sisanya itu siswa kesetaraan,” kata Jumini, Jumat, 23 Januari 2026.

Menurut Jumini, peserta program kesetaraan mayoritas berusia di atas 25 tahun, dengan peserta Paket C paling banyak. Ia juga memaparkan data jumlah peserta pada beberapa jenjang, yakni kesetaraan SD sebanyak 36 siswa yang disebutnya merupakan “anak istimewa”, kesetaraan SMP 80 siswa, dan sisanya merupakan peserta kesetaraan SMA.

Dari sisi pembiayaan, Jumini menjelaskan program kesetaraan yang ditopang dana bantuan operasional (BOP) hanya mencakup sekitar 40 persen dari total peserta. “Yang dibiayai BOP itu hanya 400 siswa. Sementara 500-an lebih itu tidak. Tapi di kita tetap di gratiskan,” ujarnya.

Jumini mengungkapkan ada sejumlah faktor yang mendorong warga memilih jalur kesetaraan. Di antaranya karena menjadi korban perundungan, pengaruh pergaulan dan gaya hidup, hingga harus membantu orang tua atau bekerja. Ia menyebut alasan terbanyak adalah bekerja yang berujung putus sekolah.

“Terbanyak itu karena bekerja, hingga putus sekolah. Pekerjaannya juga macam-macam, ada yang jadi tukang batu, tapi yang paling banyak pekerja seni,” kata Jumini. Ia menambahkan, latar belakang pekerja seni itu banyak berasal dari pegiat seni barong atau jaranan.

Menurutnya, jadwal pentas yang tidak menentu kerap membuat peserta sulit memenuhi kehadiran di sekolah formal. “Kalau pentas kan tidak kenal waktu. Kalau dia pentas pagi, dia meninggalkan sekolah. Bila absensi tidak terpenuhi kan akhirnya tidak bisa ditolelir, akhirnya di keluarkan,” ujarnya.

Untuk menjaga minat belajar, terutama pada Paket C, SKB Blora menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis keterampilan. Jumini menyebut, kegiatan keterampilan diberikan dari Senin hingga Jumat. “Kalau kebanyakan teori, siswa banyak yang tidak masuk lagi,” katanya.

SKB Blora menyediakan delapan bidang vokasi untuk peserta perempuan maupun laki-laki, antara lain kecantikan, tata busana, tata boga, hantaran pernikahan, barista, desain grafis, dan bengkel. Jumini juga menyebut komposisi peserta didominasi perempuan, dengan perbandingan sekitar 60 persen berbanding 40 persen.