Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pertemuan empat mata di Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/4) malam. Pertemuan tersebut disebut berlangsung tertutup tanpa melibatkan elite dari PDI Perjuangan maupun Partai Gerindra.
Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, menilai pertemuan antara presiden dan mantan presiden merupakan hal yang umum terjadi dalam politik. Ia menyoroti bahwa Prabowo dan Megawati pernah berada dalam satu kontestasi pada Pemilu 2009 serta merupakan tokoh sentral dari dua partai nasionalis besar, sehingga pertemuan keduanya telah lama diperkirakan akan terjadi.
Meski bukan hal baru, Alfath menilai format pertemuan yang tertutup tetap memancing perhatian publik karena mengisyaratkan adanya pembahasan strategis yang tidak disampaikan secara terbuka. Menurutnya, pertemuan tersebut menunjukkan komunikasi informal antarelite politik kerap berlangsung di ruang yang sulit diakses publik.
Alfath mengatakan sulit menilai apakah pertemuan itu lebih bernuansa politik kekuasaan atau benar-benar didorong kepentingan bangsa. Namun, ia menilai pertemuan dua figur utama tersebut berpeluang menjadi sarana konsolidasi atau negosiasi kepentingan pascapemilu. Di sisi lain, ia juga melihat potensi positif berupa penguatan stabilitas politik nasional dan harapan untuk memperlancar transisi pemerintahan.
Meski demikian, ia menyebut ada tantangan dan kekhawatiran publik terkait pertemuan yang dilakukan secara tertutup tanpa melibatkan elite partai lainnya. Ia menilai pertemuan elite yang tidak terbuka sering memunculkan pertanyaan dan spekulasi, termasuk harapan agar pemerintahan tetap memiliki kontrol dan tidak seluruhnya masuk dalam koalisi besar.
Alfath menambahkan, dalam pertemuan yang disebut berlangsung sekitar 1,5 jam itu terdapat sesi empat mata antara Prabowo dan Megawati yang memunculkan dugaan pembahasan negosiasi kepentingan pascapemilu. Ia menilai wajar bila publik mempertanyakan isi pertemuan karena pertemuan informal semacam ini biasanya hanya menyisakan sedikit informasi yang disampaikan ke ruang publik.
Ia berharap masyarakat tetap memantau dinamika kekuasaan dan tidak terpaku pada satu peristiwa. Alfath juga menekankan agar pertemuan antarelite berfokus pada upaya menyejahterakan rakyat, terutama di tengah situasi ekonomi yang disebutnya rumit. Menurutnya, pertemuan tersebut tidak semata menjadi ajang rekonsiliasi politik, tetapi juga perlu menjadi sarana mengontrol jalannya kekuasaan.

