Yogyakarta — PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam (SDA) nasional, terutama terkait pengelolaan ekspor dan devisa hasil ekspor. Secara konseptual, pembentukan DSI dipandang dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas kebijakan sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.
Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Jurnasin menilai, keberadaan DSI dapat memberikan manfaat dari sisi tata kelola (governance) maupun pengelolaan arus kas. Menurutnya, jika diterapkan dengan tepat, koordinasi kebijakan dan distribusi informasi antarlembaga juga berpeluang menjadi lebih cepat dan efisien.
“Kehadiran DSI secara konseptual dan governance dapat bermanfaat besar. Selain governance dan cash flows menjadi lebih transparan dan efektif, arus informasi dan kebijakan juga dapat menjadi lebih cepat dan jelas,” ujar Eddy Jurnasin dalam keterangannya di Yogyakarta, dikutip Kamis, 4 Juni 2026.
Namun, Eddy menekankan tantangan terbesar pembentukan DSI justru berada pada tahap implementasi di lapangan. Ia menyoroti bahwa selama ini pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan maupun kementerian lain, telah memiliki berbagai lembaga pendukung ekspor seperti export centers dan free trade agreement centers.
“Yang menjadi PR adalah selama ini Kementerian Perdagangan dan berbagai kementerian lain sudah memiliki export centers, free trade agreement centers, dan berbagai nama lainnya yang sejenis. Apakah berbagai institusi tersebut akan di-merged ke dalam DSI? Maksudnya, perlu corporate strategy mengenai vertical integration agar tidak terjadi overlapping dan kebingungan bagi para pengusaha,” katanya.
Eddy juga menilai DSI berpotensi meningkatkan devisa hasil ekspor nasional dan memperkuat posisi neraca perdagangan Indonesia. Ia merujuk data kuartal I-2026 yang mencatat neraca perdagangan Indonesia masih surplus sebesar US$3,32 miliar. “Jadi, current account deficit Indonesia itu bukan dikontribusikan oleh balance of trade, namun oleh komponen-komponen lain,” jelasnya.
Ia menerangkan, current account terdiri dari beberapa komponen, yakni ekspor-impor, primary income dan payment, secondary income dan payment, serta unilateral transfer. Karena itu, peningkatan ekspor saja dinilai belum tentu otomatis mengubah current account deficit menjadi surplus.
“DSI tentu diharapkan dapat meningkatkan devisa hasil ekspor, dan DSI besar kemungkinan dapat menggenjot peningkatan balance of trade. Namun, apakah DSI dapat membalikkan posisi current account dari deficit ke surplus? Belum tentu, karena current account Indonesia yang deficit itu bersumber dari komponen-komponen lain selain balance of trade,” ungkap Eddy.