Pemilihan Reje Kampung (kepala desa) serentak di wilayah tengah Aceh telah berlangsung tertib dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru di tingkat kampung. Namun, setelah proses demokrasi usai, para Reje Kampung terpilih kini menghadapi tantangan yang dinilai semakin berat: memimpin desa di era yang menuntut keterbukaan informasi sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi warga pascabencana.
Dalam situasi terkini, kepemimpinan Reje Kampung disebut langsung diuji oleh kondisi darurat di sektor hulu pertanian. Wilayah tengah Aceh—khususnya dataran tinggi Gayo—merupakan kawasan dengan komoditas pertanian dominan. Rentetan bencana alam belakangan ini dilaporkan meninggalkan dampak serius, mulai dari warga kehilangan tempat tinggal hingga rusaknya kebun kopi dan cabai akibat material longsor dan amblasan tanah.
Kesulitan petani bertambah ketika kerusakan lahan terjadi bersamaan dengan naiknya harga pupuk dan obat-obatan pertanian. Kondisi tersebut membuat petani yang ingin kembali menanam menghadapi keterbatasan modal, sementara biaya perawatan tanaman dinilai kian memberatkan. Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, tekanan ekonomi juga dipengaruhi oleh mahalnya kebutuhan hidup, termasuk dampak pelemahan rupiah.
Di tengah situasi itu, penggunaan Dana Desa yang bernilai miliaran rupiah per tahun didorong untuk disesuaikan dengan kebutuhan pemulihan pascabencana. Anggaran desa dinilai perlu diarahkan pada program yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi warga, bukan semata kegiatan rutin atau pembangunan fisik yang manfaatnya tidak segera dirasakan masyarakat yang terdampak.
Sejumlah prioritas yang disebut mendesak antara lain pemulihan modal kerja petani, perbaikan rumah warga, serta pembukaan kembali akses logistik pertanian yang sempat terputus. Selain itu, Reje Kampung terpilih juga diharapkan membuka ruang keterbukaan informasi, terutama terkait alokasi bantuan dan subsidi pascabencana. Publikasi rinci penggunaan Dana Desa dipandang penting untuk mencegah kecurigaan dan ketimpangan sosial di tingkat kampung.
Aspek inovasi juga menjadi sorotan, khususnya untuk menekan tingginya biaya produksi pertanian. Reje Kampung didorong mengoptimalkan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) guna membantu memastikan ketersediaan pupuk dan obat pertanian dengan harga lebih terjangkau melalui kerja sama langsung dengan distributor besar.
Selain itu, pelibatan pemuda desa dan pemanfaatan teknologi digital disebut dapat menjadi bagian dari solusi. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan cair berskala desa untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya tinggi. Upaya ini juga dipandang berpotensi mendukung kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Peran Reje Kampung di Tanah Gayo dinilai berada di persimpangan antara fungsi sebagai pemangku adat yang menjaga nilai-nilai dan tatanan Sarak Opat, serta sebagai manajer krisis yang dituntut adaptif, cepat tanggap, dan transparan. Setelah pesta demokrasi desa selesai, para pemimpin baru kini dihadapkan pada pekerjaan rumah pemulihan kampung di tengah dampak bencana dan tekanan biaya pertanian.