Warisan ideologis Presiden Ho Chi Minh dinilai kian relevan seiring waktu, terutama dalam upaya membangun kader yang berwawasan politik dan kompeten secara profesional. Dalam peringatan 136 tahun kelahiran Ho Chi Minh (19 Mei 1890–19 Mei 2026), Surat Kabar Industri dan Perdagangan mewawancarai Profesor Madya Dr. Truong Ngoc Nam, mantan Direktur Akademi Jurnalistik dan Komunikasi serta mantan anggota Dewan Teoretikus Pusat, untuk membahas penerapan pemikiran Ho Chi Minh dalam pembentukan karakter jurnalis, pembaruan cara berpikir generasi muda, dan pembangunan budaya pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Dalam wawancara tersebut, Truong Ngoc Nam menekankan bahwa dalam pemikiran Ho Chi Minh, pers dipandang sebagai kekuatan yang melayani kerja ideologis, propaganda, dan pendidikan. Karena itu, jurnalis tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga dituntut memiliki keyakinan politik yang teguh dan etika yang kuat. Ia menggarisbawahi pandangan Ho Chi Minh bahwa kualitas manusia menentukan kualitas pekerjaan, dan hal ini menjadi semakin penting dalam jurnalisme revolusioner.
Ia merujuk pada tiga pertanyaan yang, menurutnya, menjadi prinsip dasar yang diwariskan Ho Chi Minh bagi jurnalis: menulis untuk siapa, menulis tentang apa, dan menulis dengan cara bagaimana. Menulis untuk siapa berarti memahami publik, termasuk kebutuhan, tingkat pemahaman, dan minat kelompok sasaran. Menulis tentang apa berkaitan dengan pemilihan isu yang tepat, pada waktu yang tepat, serta menyentuh persoalan sosial yang relevan. Sementara menulis dengan cara bagaimana mencakup pemilihan bentuk penyajian yang tepat, dengan memastikan akurasi, kejelasan, daya tarik, dan kemampuan meyakinkan.
Di tengah lanskap informasi yang beragam dan bergerak cepat, Truong Ngoc Nam menilai tantangan utama jurnalis adalah menjaga ketenangan dan integritas. Ia menolak kecenderungan mengejar sensasionalisme atau bias emosional. Dalam konteks ini, ia menggunakan ungkapan “pena yang tajam dan hati yang murni” untuk menggambarkan tuntutan profesionalisme sekaligus kejernihan dan kejujuran batin yang didedikasikan bagi kepentingan bersama. “Ketajaman pena” dimaknai sebagai kompetensi untuk mengidentifikasi masalah dan menyajikannya secara persuasif, sedangkan “hati yang murni” merujuk pada pikiran yang jernih dan jujur.
Menurutnya, belajar dari Ho Chi Minh dalam praktik jurnalisme masa kini berarti menjalankan jurnalisme yang bertanggung jawab, mendalam, dan terarah; jujur mencerminkan kehidupan; serta berkontribusi pada pembentukan konsensus sosial, perlindungan landasan ideologis Partai dan Negara, dan penyebaran nilai-nilai positif di masyarakat.
Pembahasan kemudian bergeser pada tuntutan etika kader dan pembangunan budaya pelayanan publik. Truong Ngoc Nam menyatakan bahwa ketika berbicara tentang budaya pelayanan publik, langkah awal adalah kembali pada pemikiran Ho Chi Minh mengenai etika kader. Ia mengutip tuntutan agar kader dan anggota Partai bersikap “rajin, hemat, jujur, teguh, dan tidak mementingkan diri sendiri”, yang dipandang bukan sekadar kualitas moral umum, melainkan fondasi pelayanan publik yang jujur, bertanggung jawab, dan efektif.
Ia menekankan posisi penting masalah kader dalam pemikiran Ho Chi Minh, termasuk pernyataan bahwa “kader adalah akar dari semua pekerjaan” dan bahwa keberhasilan atau kegagalan bergantung pada baik atau buruknya kader. Dalam kerangka itu, pejabat publik disebut harus benar-benar menjadi pelayan rakyat: dekat dengan rakyat, menghormati, mendengarkan, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Dalam praktik pelayanan publik, semangat tersebut tercermin melalui sikap kerja teladan, perilaku yang pantas, rasa tanggung jawab tinggi, dan komitmen menyelesaikan persoalan secara tuntas.
Khusus bagi Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, ia menilai tuntutan ini semakin jelas karena sektor tersebut berkaitan langsung dengan produksi, bisnis, peredaran barang, pasar, energi, dan kehidupan masyarakat. Budaya pelayanan publik yang baik di bidang ini dinilai dapat meningkatkan efektivitas manajemen negara, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi dunia usaha, mendorong pembangunan ekonomi, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap aparatur pemerintah.
Truong Ngoc Nam menyebut tiga fokus penerapan ideologi Ho Chi Minh dalam pembangunan kader pada era baru. Pertama, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan semangat pengabdian, yakni bekerja dengan orientasi menuntaskan tugas secara teliti tanpa menghindari tanggung jawab. Kedua, mendorong inovasi dan perbaikan berkelanjutan, sejalan dengan tuntutan agar kader terus belajar dan mencari cara kerja yang lebih baik dan efisien; dalam konteks transformasi digital, hal ini mencakup kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan metode kerja modern. Ketiga, keteladanan dalam pelaksanaan tugas, karena teladan pemimpin dinilai memperluas budaya pengabdian masyarakat.
Ia menambahkan bahwa pembangunan budaya pelayanan publik sesuai ideologi Ho Chi Minh dapat dimulai dari hal-hal spesifik seperti ketepatan waktu, kepatuhan prosedur, pemenuhan tanggung jawab, perilaku yang pantas, dan dedikasi dalam melayani. Ketika nilai-nilai tersebut tertanam dalam pemikiran dan tindakan setiap pejabat, sistem dinilai akan bekerja lebih efisien dan kepercayaan masyarakat semakin kuat.
Terkait generasi muda, Truong Ngoc Nam menilai efektivitas pendidikan dan penyebaran ideologi, etika, serta gaya Ho Chi Minh memerlukan inovasi baik pada isi maupun metode. Ia menekankan pentingnya membuat gagasan Ho Chi Minh relevan dan “hidup”, sehingga dapat diterjemahkan ke dalam tindakan sehari-hari, bukan sekadar menjadi prinsip umum.
Menurutnya, nilai keteladanan Ho Chi Minh perlu lebih ditekankan, terutama sebagai contoh kesatuan antara kata dan perbuatan. Karena itu, penyampaian materi dinilai lebih kuat bila disertai kisah-kisah spesifik, tindakan nyata, dan detail keseharian yang sarat makna humanistik, dibandingkan penyampaian teori secara satu arah. Selain itu, penyebaran ideologi Ho Chi Minh disebut perlu dikaitkan erat dengan pembelajaran praktis, kerja, dan kontribusi generasi muda, sehingga belajar dari Ho Chi Minh tidak berhenti pada slogan, melainkan menjadi latihan tanggung jawab, disiplin, gaya hidup sehat, semangat pengabdian, dan keinginan berkontribusi.
Ia menutup dengan pandangan bahwa reformasi pendidikan terkait ideologi Ho Chi Minh seharusnya membantu generasi muda melihat kedekatan pemikiran tersebut dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, setiap tindakan baik, upaya memperbaiki diri, dan kerja untuk kepentingan bersama dapat dipahami sebagai cara paling praktis untuk belajar dan mengikuti teladan Ho Chi Minh.