Pembatasan arus informasi di Iran di tengah gelombang protes membuat verifikasi gambar dan video dari lapangan kian sulit. Dalam situasi ketika akses internet dibatasi ketat dan pelaporan independen terhambat, ruang bagi misinformasi dan disinformasi melebar—mulai dari video buatan kecerdasan buatan (AI) hingga rekaman lama yang kembali beredar seolah-olah peristiwa terbaru.
Protes anti-rezim di Iran dilaporkan telah berlangsung lebih dari dua pekan dan terjadi di sejumlah wilayah. Namun, akses terhadap informasi terpercaya dari dalam negeri disebut masih sangat terbatas. Media asing nyaris tidak dapat melaporkan langsung dari Iran, sementara warga yang mendokumentasikan peristiwa di lapangan menghadapi risiko serius.
Di tengah situasi ini, Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan pada Rabu (14/01) bahwa sedikitnya 2.400 orang tewas dalam tindakan represif aparat keamanan selama gelombang protes terbaru. Sejumlah kelompok hak asasi manusia menyebut jumlahnya bahkan lebih tinggi.
Para ahli menilai pembatasan informasi bukan hal baru, melainkan bagian dari strategi lama pemerintah Iran. Peneliti senior Institute for Security Policy Universitas Kiel, Jerman, Sara Bazoobandi, menyebut pemadaman internet merupakan taktik yang disengaja untuk menciptakan keraguan ketika orang tidak dapat berbagi informasi. “Ini membuat kami bingung soal siapa yang mengatakan kebenaran,” ujarnya.
Pihak berwenang, menurut laporan, memberlakukan penutupan hampir total terhadap layanan internet dan telepon. Panggilan internasional hanya sesekali dapat dilakukan setelah gangguan berhari-hari. Kondisi ini memengaruhi aliran gambar dan video ke publik di dalam dan luar Iran, sekaligus memberi ruang bagi beredarnya konten yang tidak akurat.
Dalam penelusuran konten yang beredar, salah satu contoh adalah video yang menampilkan kerumunan besar orang berbaris pada malam hari sambil menyalakan lampu ponsel. Video itu diklaim sebagai bagian dari protes terkini di Iran, disertai narasi bahwa pemerintah mematikan lampu jalan untuk menyembunyikan besarnya massa. Video tersebut ditonton lebih dari 750.000 kali dan dibagikan luas.
Hasil pemeriksaan menyimpulkan klaim itu keliru. Sejumlah indikator visual—seperti sudut pandang dari atas, ketiadaan wajah yang jelas, pola cahaya yang seragam, serta distorsi tidak alami pada tangan dan ponsel—dinilai konsisten dengan citra buatan AI. Pengguna Instagram yang mengunggah video itu juga mengaku membuatnya dengan AI karena “terinspirasi” oleh protes di Iran. Unggahan tersebut disebut telah dilihat lebih dari 60 juta kali, tetapi banyak pihak mengunduh dan membagikan ulang tanpa memberi label bahwa konten itu buatan AI.
Kasus lain menunjukkan bagaimana sulitnya memverifikasi video yang mengklaim berasal dari Iran saat ini. Farhad Souzanchi, pemimpin redaksi Factnameh—platform pemeriksa fakta berbasis di Kanada yang memverifikasi klaim terkait Iran—menyebut kondisi penutupan akses komunikasi membuat verifikasi silang menjadi sangat menantang. Ia mengatakan, “Saat ini benar-benar terjadi penutupan total,” sehingga video yang beredar di luar Iran sulit dikonfirmasi tanpa pembandingan dengan berbagai sumber.
Kelangkaan materi autentik juga membuat rekaman lama kerap disajikan sebagai peristiwa baru, sebuah pola yang umum terjadi saat krisis. Salah satu contohnya adalah video seorang pria menurunkan bendera dari sebuah gedung yang disebarkan dengan narasi seolah-olah itu terjadi dalam protes terkini di Iran. Seorang pengguna di X, misalnya, menulis dalam bahasa Spanyol bahwa demonstran telah mengambil alih markas IRGC dan menurunkan bendera republik.
Penelusuran menunjukkan video tersebut bukan rekaman terbaru. Konteks sebenarnya adalah protes di Nepal pada September 2025. Petunjuk lain terlihat dari pakaian orang-orang dalam video yang dinilai sesuai musim panas, serta keterangan pada unggahan lama yang menyebut markas Partai Komunis Nepal sebagai lokasi pengambilan gambar. Video itu kembali beredar ketika ketegangan meningkat di Iran, menggambarkan kerentanan rekaman lama untuk disalahrepresentasikan saat materi baru sulit diperoleh.
Sementara visual protes anti-rezim lebih sulit diverifikasi, gambar dan video aksi pro-rezim disebut relatif lebih mudah dikonfirmasi. Aksi semacam itu biasanya berlangsung terbuka, disertai kehadiran aparat keamanan, dan diliput luas. Namun, menurut Souzanchi, dokumentasi tersebut tidak memperlihatkan bagaimana aksi diatur dan dikoordinasikan. Ia menyebut aksi tandingan itu “diatur dan disahkan pemerintah, dengan pengamanan penuh,” serta peserta disebut disediakan poster, perlengkapan lain, hingga sarana transportasi—yang menurutnya membuatnya sarat propaganda.
Di media sosial, beredar pula konten pro-rezim yang dinilai mendistorsi realitas, termasuk video buatan AI. Salah satu video memperlihatkan kerumunan besar memegang bendera Iran berukuran raksasa dan disebarkan sebagai demonstrasi pro-pemerintah dalam berbagai bahasa, termasuk Hindi dan Arab. Hasil analisis menyatakan video itu dibuat secara digital, dengan sejumlah wajah tidak jelas dan pada satu bagian tampak seseorang seolah muncul dari dalam bendera. Rekaman juga menggunakan sudut pandang lebar untuk melebih-lebihkan skala kejadian, yang disebut sebagai ciri umum video buatan AI.
Rangkaian contoh tersebut menunjukkan bahwa konten sintetis dapat muncul di kedua sisi narasi protes. Para ahli menilai pemerintah Iran tidak asing dengan disinformasi dan manipulasi, mengingat negara itu beberapa kali menghadapi gelombang protes serupa. Namun, Souzanchi menilai pihak berwenang relatif senyap pada fase awal gelombang protes terbaru, seolah menunjukkan kebingungan dan ketiadaan strategi. Bazoobandi menambahkan sebagian metode yang digunakan dalam episode ini sangat bermasalah dan, menurutnya, “dipilih secara tergesa-gesa.”

