Indonesia memaparkan pendekatan strategis untuk mendorong transisi energi yang dinilai adil sekaligus ambisius dalam sebuah panel diskusi bertajuk Powering the Future: Indonesia’s Strategy for a Just and Ambitious Energy Transition di Indonesia Pavilion, Davos, Swiss.
Forum tersebut menyoroti upaya Indonesia mempercepat transisi energi dengan tetap menjaga ketahanan energi, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta memenuhi komitmen iklim nasional.
Diskusi menghadirkan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Presiden Direktur RGE Indonesia Bernard Riedo, dan Presiden Direktur Indika Energy Azis Armand. Panel dipandu CEO BloombergNEF Jon Moore.
Dalam pemaparannya, Simon menyatakan Pertamina berperan sebagai penggerak transformasi energi nasional melalui pengembangan energi rendah karbon dan penguatan portofolio energi bersih. Ia juga menyebut penerapan teknologi seperti bioenergi, panas bumi, dan penangkapan karbon, sembari menekankan pentingnya menjaga ketahanan serta keterjangkauan energi bagi masyarakat.
Simon mengatakan Pertamina menerapkan strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy, yakni memaksimalkan bisnis yang sudah ada dengan meningkatkan produksi sektor hulu yang dinilai masih memiliki potensi besar, sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon. Salah satu fokusnya adalah pembangunan ekosistem biofuel, termasuk program biodiesel B40 yang disebut telah diimplementasikan di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis pada Jumat, 23 Januari 2026.
Para panelis menilai transisi energi Indonesia memerlukan pendekatan yang berimbang dan sesuai konteks, mengingat kebutuhan energi domestik yang terus meningkat serta peran strategis sektor energi dalam menopang industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja.
Indonesia menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23% pada 2025, sejalan dengan komitmen penurunan emisi nasional menuju Net Zero Emission 2060.
Bernard Riedo mencontohkan rencana pengembangan LNG di Kanada yang didukung pasokan listrik dari pembangkit hidro. Ia menyebut proyek tersebut dapat diklaim sebagai rencana energi net-zero setelah konstruksi selesai karena sumber energinya berasal dari listrik hidro.
Sementara itu, Azis Armand menekankan perlunya kepastian kebijakan serta pendekatan transisi yang realistis agar investasi berkelanjutan dapat tumbuh, teknologi rendah karbon dapat diadopsi secara luas, dan manfaat ekonomi transisi energi dapat dirasakan secara inklusif.
Azis menegaskan, dalam proses transisi di tingkat korporasi, prioritas utama adalah menjaga keamanan energi dan ketahanan bisnis. Menurutnya, setiap langkah transisi harus masuk akal secara ekonomi dan finansial, sekaligus memperkuat keamanan energi dan resiliensi usaha. Dalam konteks Indika Energy, ia menyatakan transisi energi perlu memperkuat platform bisnis agar dapat bertumbuh berkelanjutan dan tetap layak secara finansial.

