Guru besar komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto perlu memperkuat komunikasi politik yang berisi solusi konkret guna meredakan kekecewaan publik.
Menurut Nyarwi, masyarakat membutuhkan penjelasan yang lebih jelas mengenai target serta dampak nyata dari berbagai program pemerintah. Pesan komunikasi, kata dia, semestinya menjawab harapan dan tuntutan publik melalui solusi yang bisa dirasakan.
“Kalau mau disederhanakan ya itu komunikasi politik yang pesannya memberikan solusi nyata, seperti harapan dan tuntutan massa, yang itu sebenarnya pemerintah tahu,” ujar Nyarwi kepada Kompas.com, Selasa (2/9/2025).
Ia mencontohkan, pemerintah sebaiknya memaparkan sejauh mana upaya untuk memenuhi janji-janji kampanye. Salah satunya terkait persoalan sulitnya mencari pekerjaan formal, yang menjadi salah satu isu dalam kampanye.
Nyarwi menyinggung pernyataan Prabowo-Gibran mengenai target 19 juta lapangan kerja. Ia menilai publik perlu mendapatkan gambaran mengenai langkah-langkah yang sudah ditempuh pemerintah, tahapan yang telah dicapai, serta rincian target yang hendak diraih.
“Misalnya, susahnya mencari pekerjaan formal, padahal itu dihajikan juga dalam kampanye. Misalnya, Prabowo-Gibran kan pernah menyatakan 19 juta lapangan kerja. Nah, itu pertanyaannya langkah-langkah pemerintah sudah sampai mana? Sudah sampai tahapan apa? Targetnya kayak apa?” kata dia.
Menurut Nyarwi, komunikasi yang transparan mengenai capaian dan langkah program dapat membantu mencegah kekecewaan publik berkembang menjadi kemarahan. Ia berpandangan, tanpa strategi komunikasi yang lebih jelas dan solutif, kepercayaan publik terhadap pemerintah akan sulit dipulihkan.
Ia menekankan pentingnya pembenahan komunikasi publik agar masyarakat tidak merasa mendapat harapan palsu yang berujung pada frustrasi. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memicu ekspresi protes di ruang publik, kemarahan terhadap elite dan institusi, serta penurunan tingkat kepercayaan kepada pemerintah pusat maupun daerah.
“Ini pentingnya komunikasi publiknya dibenahi agar masyarakat tidak mendapatkan harapan palsu, memunculkan frustrasi, sehingga memunculkan ekspresi-ekspresi yang tumpah ke jalanan, bahkan kemarahan-kemarahan ke elite, ke institusi, menurunkan tingkat kepercayaan pada pemerintah pusat, pemerintah daerah, saya kira itu yang harus dihindari,” kata Nyarwi.
Selain itu, Nyarwi mendorong pemerintah merespons keresahan publik melalui program jangka pendek yang dampaknya bisa cepat dirasakan. Ia menilai sejumlah program yang berjalan saat ini memerlukan waktu cukup lama hingga hasilnya terlihat di masyarakat.
Ia mencontohkan kemunculan Danantara yang, menurutnya, masih memiliki banyak pekerjaan rumah sebelum dampaknya benar-benar terasa. Nyarwi menekankan perlunya penjelasan mengenai langkah ke depan yang dapat membantu masyarakat, terutama terkait kondisi ekonomi.
“Harus terlihat apa yang akan dilakukan ke depan, membantu masyarakat, menjadi solusi-solusi kondisi yang dihadapi masyarakat, terkait kehidupan ekonomi,” imbuh dia.

