Sejumlah ketua umum partai dan tokoh politik tercatat pernah duduk semeja dan makan bersama Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Mereka antara lain Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PSI Giring Ganesha, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Pengamat Psikologi Politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Abdul Hakim, menilai momen “politik meja makan” yang melibatkan Gibran merupakan salah satu cara membangun citra di hadapan publik. Menurut dia, makan bersama di ruang yang terlihat publik bisa menjadi upaya menampilkan kedekatan.
“Dengan bersantap bersama di depan publik ini bagian dari usaha membangun citra kedekatan,” kata Abdul Hakim.
Ia menambahkan, strategi semacam itu lazim dilakukan politisi, baik yang berada di kubu oposisi maupun koalisi.
Namun, Abdul Hakim menilai satu atau dua kali makan bersama belum tentu memberi dampak besar. Pengecualian, kata dia, terjadi apabila pertemuan dilakukan dengan tokoh dari partai-partai koalisi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Itu mendeklarasikan kesetiaan mereka kepada Pak Jokowi,” ujarnya.
Sementara itu, untuk partai atau tokoh yang berada di luar koalisi, Abdul Hakim menyebut efeknya cenderung sementara jika tidak disertai langkah politik lain atau hubungan positif dengan keluarga maupun lingkaran dalam Jokowi.
Ia menjelaskan, membangun kedekatan dengan pihak yang berada di sekitar Presiden Jokowi dapat membantu mengurangi dampak politik negatif. Hal serupa, menurutnya, juga bisa menjadi kepentingan bagi tokoh oposisi.
Abdul Hakim mencontohkan pertemuan Anies Baswedan yang sempat sarapan bersama Gibran di sebuah hotel. Menurut dia, dalam situasi politik saat ini, kandidat politik—terutama calon presiden—yang dipersepsikan sebagai lawan Jokowi menghadapi risiko besar.
“Jadi untuk para oposisi ini minimal punya kesan tidak dijauhi Pak Jokowi, minimal diterima walaupun tidak didukung,” kata Abdul Hakim.