Musda Golkar Sulsel: Tarik-menarik Nostalgia dan Regenerasi dalam Perebutan Arah Kepemimpinan

Musda Golkar Sulsel: Tarik-menarik Nostalgia dan Regenerasi dalam Perebutan Arah Kepemimpinan

Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) kali ini dinilai tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepemimpinan rutin. Forum tersebut juga dipandang sebagai penentu arah masa depan Golkar Sulsel di tengah perubahan lanskap politik, termasuk pergeseran karakter pemilih antargenerasi.

Dalam dinamika itu, Golkar Sulsel disebut berada di persimpangan: mempertahankan tradisi politik lama yang bertumpu pada figur dan jaringan senior, atau membuka ruang lebih luas bagi regenerasi serta modernisasi. Pilihan arah tersebut dinilai berpengaruh pada kemampuan partai menjaga relevansi dan dukungan pemilihnya.

Sejumlah nama mencuat sebagai kandidat Ketua DPD I Golkar Sulsel, di antaranya Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Andi Ina Kartika Sari, Munafri Arifuddin (Appi), dan Rahman Pina. Di ruang publik maupun percakapan internal kader, IAS kembali menjadi salah satu tokoh yang banyak disebut.

IAS bukan figur baru di Golkar. Ia disebut sebagai kader yang tumbuh dan dibesarkan di partai tersebut, serta pernah dipercaya menjadi pelaksana harian (Plh) Ketua DPD I Golkar Sulsel pada masa dinamika internal beberapa tahun lalu. Pengalaman itu kerap dijadikan alasan bahwa IAS memahami kerja organisasi dan jejaring Golkar Sulsel dari dalam.

Bagi sebagian kader senior, IAS dipandang merepresentasikan generasi politisi yang lahir dari kultur partai yang kuat, menguasai organisasi, memahami jaringan daerah, dekat dengan elite nasional, dan mampu membangun komunikasi hingga akar rumput. IAS juga dikenal memiliki pengalaman sebagai mantan Wali Kota Makassar dua periode dengan citra kepemimpinan yang komunikatif.

Namun, tantangan yang dihadapi Golkar saat ini dinilai berbeda. Fokusnya bukan hanya memenangkan Musda, melainkan mempertahankan relevansi di tengah perubahan generasi pemilih. Pemilih muda di Sulsel disebut semakin kritis terhadap integritas, gagasan, kemampuan komunikasi digital, dan keberpihakan sosial, serta tidak lagi terikat pada sejarah besar partai.

Dalam konteks itu, Golkar disebut membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjembatani masa lalu dan masa depan. Nama Appi kerap dikaitkan dengan kebutuhan tersebut. Appi dipandang membawa wajah Golkar yang lebih modern dan urban, serta memiliki kedekatan dengan pemilih muda perkotaan.

Sementara itu, Andi Ina Kartika Sari disebut memiliki kekuatan pada struktur dan jejaring politik keluarga yang kuat di Sulsel, dengan latar pengalaman legislatif dan pemerintahan. Rahman Pina juga disebut sebagai figur yang mewakili jalur kaderisasi internal yang lebih organisatoris.

Musda kali ini juga dinilai tidak bisa dilepaskan dari budaya ketokohan yang selama ini melekat pada Golkar Sulsel. Dalam sejarahnya, partai tersebut kerap bertumpu pada figur kuat yang mampu menjadi titik temu berbagai jaringan dan kepentingan di daerah. Karena itu, pertarungan Musda tidak hanya menyangkut aspek administratif, tetapi juga kemampuan kandidat menjadi pemersatu faksi.

Sejumlah keunggulan masing-masing kandidat pun menjadi sorotan. IAS disebut memiliki kelebihan dalam pengalaman dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok serta fleksibel menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan politik. Andi Ina dinilai kuat dalam struktur dan jejaring. Appi dianggap memiliki daya tarik modernisasi dan kedekatan dengan pemilih muda perkotaan. Adapun Rahman Pina dipandang merepresentasikan kaderisasi internal yang lebih berorientasi organisasi.

Selain memilih ketua baru, Musda juga dipandang sebagai arena rekonsiliasi. Golkar dikenal memiliki sejarah konflik internal, tetapi juga cepat melakukan konsolidasi setelah kompetisi selesai. Karena itu, siapa pun yang terpilih dinilai perlu merangkul semua kelompok untuk mencegah fragmentasi internal yang berkepanjangan.

Pada akhirnya, Musda Golkar Sulsel dinilai akan menjawab pertanyaan mendasar: model kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan partai saat ini—apakah lebih menekankan pengalaman dan jejaring lama, atau mendorong regenerasi dan penyesuaian dengan tuntutan politik yang berubah.