Di tengah dentuman bass dan getaran megasubwoofer yang kerap mengiringi parade karnaval desa, nama Memed Potensio mencuat dan menjadi perbincangan. Pria yang populer dengan julukan ‘Thomas Alva EdiSound’ itu viral di media sosial, antara lain karena tampilan khas dengan mata yang terlihat mengantuk serta gaya kerjanya yang tegas saat menjadi teknisi sound horeg.
Sound horeg merujuk pada sistem audio dengan volume keras hingga menimbulkan getaran. Perangkat pemutar musik yang dipadukan dengan pengeras suara rakitan ini lazim muncul dalam pesta rakyat, pawai warga, dan berbagai acara lain. Di sejumlah wilayah Jawa Timur, fenomena ini digemari sebagian masyarakat, namun juga memicu keluhan karena kebisingan dan gangguan yang ditimbulkan.
Memed, yang bernama asli Ahmad Abdul Aziz, lahir di Blitar pada 1996. Meski berusia 29 tahun, ia mengaku telah berkecimpung di dunia sound system sejak remaja. Ia mulai terlibat sekitar 2007 saat ayahnya bekerja di persewaan sound untuk hajatan. Ketika masih duduk di bangku SMP, Memed rutin membantu ayahnya sepulang sekolah atau saat libur.
Dari pengalaman itu, ia mulai belajar dasar-dasar pekerjaan teknisi. Namun, Memed menyebut kemampuan teknisnya lebih banyak diasah secara autodidak. Ia mengaku tidak menempuh pendidikan formal elektro, melainkan belajar dari sesama teknisi yang bersedia berbagi pengetahuan.
Terkait munculnya sound horeg, Memed menilai fenomena tersebut mulai mencuat dari Malang sekitar 2013. Pada masa itu, truk-truk karnaval mulai dipasangi sound system berukuran besar, meski kapasitasnya masih terbatas. Ia mengingat jumlah subwoofer pada satu kendaraan kala itu berkisar empat hingga enam.
Seiring waktu, antusiasme warga meningkat dan tren itu menyebar ke daerah lain di Jawa Timur. Memed menyebut, di Blitar fenomena tersebut mulai terasa sekitar 2016 hingga 2017. Bersamaan dengan meluasnya tren, kapasitas perangkat yang dibawa kendaraan karnaval juga bertambah. Menurutnya, saat ini satu truk bisa memuat sekitar 12 subwoofer, bahkan kadang 15.
Kini Memed bekerja sebagai salah satu teknisi di Brewog Audio Blitar, kelompok sound horeg yang dikenal di Jawa Timur. Ia menjalani profesi itu dengan berpindah dari satu karnaval ke karnaval lainnya. Ketika polemik mengenai sound horeg menguat, sosok Memed ikut terseret ke dalam sorotan publik. Foto dirinya bahkan kerap diolah seolah-olah ia ilmuwan atau penemu, menyerupai Thomas Alva Edison.
Di tengah kontroversi, Memed juga bercerita bahwa kegiatan sound horeg tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan politik. Ia mengatakan kelompok penyedia jasa sound horeg kerap dilibatkan dalam kegiatan warga yang bersifat sosial, keagamaan, maupun politik.
Menurut Memed, penyewa jasa pada umumnya adalah warga. Dalam beberapa kegiatan desa, ia menyebut acara bisa disertai penarikan karcis parkir, yang kemudian digunakan untuk kebutuhan sosial, seperti disalurkan kepada kiai untuk pondok atau santunan anak yatim. Ia menilai hal itu menunjukkan bahwa keberadaan sound horeg tidak selalu dipandang bertentangan dengan nilai yang hidup di masyarakat.
Selain itu, Memed mengungkap sound horeg juga kerap hadir dalam kegiatan politik, terutama menjelang pemilihan kepala daerah. Ia menyebut kelompoknya pernah disewa sejumlah calon bupati dari berbagai daerah, termasuk Boyolali, Lamongan, Lumajang, Pasuruan, Blitar, Malang, hingga Banyuwangi.
Meski demikian, Memed menegaskan pihaknya hanya menjalankan pekerjaan sebagai penyedia jasa secara profesional dan tidak terlibat dalam urusan politik praktis. Dalam kegiatan keagamaan pun, ia menyatakan peran mereka sebatas memenuhi kebutuhan teknis sesuai permintaan warga atau panitia.

