Ketika Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tampil bersama di Washington dan mengumumkan rencana yang dipandang banyak pihak sebagai pukulan telak bagi Gaza, suasana muram menyelimuti para pendukung Palestina. Pernyataan Trump yang mengancam Hamas—termasuk kalimat bahwa penolakan terhadap kesepakatan akan membuat mereka “merasakan neraka”—memperkuat kesan bahwa ruang gerak Gaza kian menyempit.
Di tengah atmosfer pesimistis itu, pertemuan penting digelar di Doha, Qatar. Sejumlah pejabat tinggi dari Turki, Mesir, dan Qatar berkumpul untuk membahas cara keluar dari tekanan diplomatik dan politik yang mengarah pada dua pilihan ekstrem bagi Hamas: kehancuran total atau penyerahan diri. Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin, Kepala Intelijen Mesir, serta pejabat senior Qatar. Pada saat yang sama, Hamas juga menggelar pertemuan internal dengan faksi-faksi perlawanan di Gaza.
Dari rangkaian pembahasan itu, muncul strategi yang digambarkan sebagai upaya menyeimbangkan penolakan dan penerimaan. Hamas tidak menolak sepenuhnya rencana Trump, namun juga tidak menerimanya secara utuh. Pendekatan ini disebut bertujuan menutup peluang Israel mengisolasi Hamas secara politik dan melabelinya sebagai pihak yang menolak perdamaian, sekaligus memberi Gaza waktu untuk bernapas dan menata ulang strategi.
Salah satu titik penting dalam perundingan adalah perubahan cara pandang terhadap isu sandera Israel. Dalam narasi tulisan ini, para perunding menilai keberadaan sandera tidak menghentikan serangan udara maupun operasi darat Israel, sementara isu tersebut terus menjadi pusat pernyataan Trump dan para pemimpin Eropa. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apa yang akan hilang bagi Hamas jika sandera dibebaskan. Kesimpulan yang diambil: menahan sandera dinilai tidak lagi menghadirkan keuntungan strategis dan justru menjadi beban moral serta politik. Dengan membebaskan sandera, Hamas diyakini dapat mematahkan salah satu dalih utama Israel untuk terus menyerang, sembari menghindari citra sebagai pihak yang menolak perdamaian.
Namun, menurut tulisan tersebut, manuver kunci Hamas bukan hanya pada kesiapan membebaskan sandera, melainkan pada sikap yang tidak menyetujui seluruh isi rencana Trump dan menegaskan bahwa butir-butir lain masih perlu dibahas. Dengan demikian, langkah itu diposisikan sebagai manuver taktis, bukan penyerahan.
Setelah kesepakatan atas sejumlah pokok utama dicapai, sebuah pernyataan disusun dengan ketelitian tinggi. Jalur komunikasi diplomatik kemudian bergerak cepat. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan disebut memainkan peran penting, disusul komunikasi dari Ibrahim Kalin kepada utusan khusus Trump, Witkoff, untuk memaparkan isi pernyataan tersebut. Upaya berikutnya berfokus pada meyakinkan Trump agar menerima usulan itu di tengah tekanan kuat dari lobi Israel.
Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani disebut menelepon Trump untuk menyampaikan bahwa hasil perundingan Doha merupakan opsi terbaik yang dapat dicapai. Sehari kemudian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga berbicara langsung dengan Trump dan menyebut usulan tersebut sebagai solusi paling realistis. Dalam narasi tulisan ini, Trump melihat isu sandera sebagai keuntungan politik sehingga menyetujui rancangan tersebut.
Ketika Hamas mengumumkan tawaran yang telah disusun, respons internasional disebut meluas dan melampaui perkiraan. Netanyahu, menurut tulisan itu, meyakini Trump akan menolaknya. Namun beberapa jam kemudian, Trump menulis di media sosial bahwa Hamas siap untuk perdamaian permanen, sandera akan dibebaskan, dan Israel harus segera menghentikan serangan udara. Gedung Putih juga mengumumkan Trump akan menyampaikan pidato resmi melalui video, meski sempat terjadi penundaan akibat perdebatan internal yang melibatkan Witkoff dan kemudian Jared Kushner, sementara Netanyahu disebut mendesak untuk berbicara langsung dengan Trump. Pada akhirnya, Trump mengunggah video singkat yang menyebut respons Hamas sebagai langkah positif.
Tulisan ini menilai langkah tersebut mulai meretakkan isolasi politik yang selama bertahun-tahun membelenggu Hamas. Trump dan Wakil Presiden J.D. Vance juga disebut mempublikasikan teks lengkap pernyataan Hamas di akun resmi mereka. Bagi penulis, tindakan itu menandai perubahan penting: untuk pertama kalinya Hamas diperlakukan sebagai aktor yang diajak berbicara dalam proses politik, sesuatu yang mengguncang pusat kekuasaan di Tel Aviv dan Washington.
Meski serangan udara Israel disebut masih berlanjut saat tulisan dibuat, nada pernyataan resmi Israel digambarkan mulai berubah. Tidak lagi menonjolkan klaim kemenangan mutlak, melainkan menekankan “komitmen terhadap rencana Trump”. Di Israel, media disebut ramai mengkritik langkah Trump, termasuk tudingan bahwa ia “menjual Israel” demi ambisi Hadiah Nobel Perdamaian.
Dalam penilaian penulis, Trump memperoleh apa yang diinginkan: pembebasan sandera tanpa memberikan Netanyahu kemenangan militer. Faktor lain yang disebut turut membentuk konteks adalah gelombang protes global dan dukungan dari Qatar, Turki, Arab Saudi, Mesir, serta Yordania terhadap pernyataan Hamas, yang dinilai mencerminkan kesatuan sikap baru di dunia Arab dan Islam. Di titik ini, penerimaan Hamas terhadap rencana tersebut dipandang sebagian kalangan di Washington sebagai peluang, bukan ancaman.
Bagian akhir tulisan menekankan bahwa situasi ini tidak diposisikan sebagai kemenangan konvensional maupun kekalahan. Manuver Hamas digambarkan sebagai upaya mengambil jeda, menyusun ulang langkah, dan merebut kembali inisiatif moral di mata dunia. Menurut penulis, apa yang terjadi merupakan awal babak baru dari perjuangan panjang Palestina.

