Mahasiswa ITB Kembangkan Pupuk Organik Cair dari Limbah Cair Sawit untuk Tomat Momotaro

Mahasiswa ITB Kembangkan Pupuk Organik Cair dari Limbah Cair Sawit untuk Tomat Momotaro

Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan pupuk organik cair berbahan limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) melalui proses fermentasi mikrobiologis. Inovasi ini ditujukan untuk menjawab tantangan pengelolaan limbah industri sawit yang selama ini kerap menimbulkan persoalan lingkungan.

Tim yang terdiri dari Agnes Ruth Savira, Maritza Kayla Zasky Malikha, dan Naveed Muhammad Falah Brahmantika dari Program Studi Teknologi Pascapanen tersebut mengusung tema besar “Akselerasi Indonesia Impact”. Mereka mengolah POME menjadi biofertilizer bernilai tambah dengan klaim keunggulan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan proteksi alami terhadap hama pada Tomat Momotaro.

Naveed, mewakili tim, mengatakan Tomat Momotaro merupakan komoditas bernilai tinggi yang membutuhkan pupuk berkualitas. Menurutnya, inovasi ini juga ingin menunjukkan bahwa limbah dapat diubah menjadi solusi yang bermanfaat bagi petani sawit maupun petani hortikultura. Ia menyebut gagasan tersebut terinspirasi dari kunjungan tim ke Mujagi Farm di Cianjur.

Tim menilai penerapan pupuk hasil fermentasi dari limbah sawit berpotensi menekan penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Selain itu, inovasi tersebut dipandang dapat memperkuat daya saing produk hortikultura Indonesia di pasar global, sekaligus menjadi contoh pendekatan ekonomi sirkular yang menyinergikan sektor perkebunan sawit dan pertanian hortikultura.

Bagi Tim Althara, pencapaian mereka di ajang FEAB 2025 disebut bukan akhir, melainkan awal untuk mendorong pengembangan inovasi hingga dapat diterapkan di tingkat lapangan. Mereka juga berharap terbuka peluang komersialisasi, bahkan mendukung ekspor hortikultura premium Indonesia.

Tim turut menekankan pentingnya ketekunan dalam berinovasi. “Pelajaran berharga yang kami dapat adalah jangan mudah menyerah. Justru dari tantangan, lahir peluang untuk berinovasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, mencoba, dan berkolaborasi demi memberi dampak positif bagi masyarakat,” ujar Naveed.

Final FEAB 2025 digelar pada 7 Juli 2025 di Jakarta, sementara malam penganugerahan berlangsung pada 17 Juli 2025. Melalui karya tersebut, Tim Althara menegaskan upaya mengubah limbah menjadi solusi sebagai bagian dari gagasan membangun masa depan pertanian Indonesia.