Legislator Gorontalo Ingatkan Dominasi Algoritma Media Sosial Bisa Mengaburkan Informasi Publik

Legislator Gorontalo Ingatkan Dominasi Algoritma Media Sosial Bisa Mengaburkan Informasi Publik

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Erwinsyah Ismail, menyoroti dominasi algoritma media sosial yang dinilai semakin memengaruhi akses masyarakat terhadap informasi publik di era digital. Ia menilai, ruang digital yang banyak digunakan generasi muda saat ini bekerja dengan mekanisme yang tidak selalu mengutamakan informasi bernilai kepentingan publik.

Pernyataan tersebut disampaikan Erwinsyah saat menjadi narasumber dalam acara Temu Jurnalis se-Gorontalo yang digelar di Kota Gorontalo, Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan yang dihadiri siswa dari berbagai sekolah itu bertujuan meningkatkan literasi media serta pemahaman demokrasi di kalangan generasi muda Gorontalo.

Dalam paparannya, Erwinsyah menekankan bahwa algoritma platform media sosial cenderung mengedepankan konten yang mampu menarik perhatian dan interaksi pengguna. Akibatnya, informasi penting bagi masyarakat tidak selalu menjadi informasi yang paling banyak dilihat atau diakses.

Ia menjelaskan, perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap penyebaran informasi secara fundamental. Informasi mengenai pembangunan daerah, pelayanan publik, isu pertanian, pendidikan, maupun kebijakan pemerintah kerap kalah populer dibanding konten hiburan atau sensasi yang lebih mudah memancing respons pengguna.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bentuk distorsi dalam ekosistem informasi digital. Distorsi ini dinilai dapat memengaruhi kualitas ruang publik dan proses demokrasi secara keseluruhan. “Ketika informasi publik yang penting tenggelam oleh konten yang lebih viral, masyarakat berisiko kehilangan akses terhadap informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan secara rasional,” ujarnya.

Erwinsyah juga mengingatkan bahwa ruang digital menghadirkan sejumlah ancaman lain, seperti umpan klik (clickbait) yang menyesatkan, berita hoaks, disinformasi yang sengaja disebarkan, serta fenomena ruang gema (echo chamber). Ruang gema, kata dia, membuat pengguna hanya terpapar informasi yang sejalan dengan pandangan mereka sehingga perspektif menjadi terbatas.

Di sisi lain, ia menegaskan peran media tetap krusial dalam sistem demokrasi sebagai penghubung antara pemerintah, lembaga legislatif, dan masyarakat. Karena itu, keberadaan media yang profesional diperlukan agar informasi yang diterima publik tetap akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus menjaga transparansi serta akuntabilitas.

Ia menilai tantangan ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Jurnalis diminta menjaga kualitas informasi yang disajikan, sementara masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan.

Untuk memperkuat ekosistem informasi di daerah, Erwinsyah turut mendorong agar semakin banyak perusahaan media di Gorontalo memenuhi standar profesional serta terverifikasi oleh Dewan Pers. Menurutnya, verifikasi menjadi bagian penting untuk memastikan media beroperasi sesuai kode etik jurnalistik dan standar profesional, sehingga mampu menyajikan informasi kredibel serta menjadi benteng terhadap hoaks dan disinformasi.