Lagu Viral “MBG” Dinilai Bergeser dari Sindiran Warganet Menjadi Penguat Citra Politik

Lagu Viral “MBG” Dinilai Bergeser dari Sindiran Warganet Menjadi Penguat Citra Politik

BANTUL — Lagu viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” di media sosial dinilai menunjukkan bagaimana ruang digital dapat mengubah makna sebuah ekspresi publik. Konten yang semula dipahami sebagai sindiran warganet terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, belakangan berkembang menjadi bentuk eksposur yang justru memperkuat citra tokoh tersebut.

Analisis itu disampaikan Dr. Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia menilai algoritma media sosial berperan besar dalam pergeseran makna, dari kritik menjadi hiburan yang berujung pada efek promosi.

Fajar mencontohkan lirik sederhana “Buah apa yang paling manis? Buaahhlil…” yang awalnya dianggap sebagai sarkasme dan dikaitkan dengan kritik terhadap kebijakan pemerintah di sektor energi. Namun, ketika lagu itu terus diputar, direproduksi, dan digunakan berulang kali di berbagai platform, muatan kritisnya perlahan memudar. Menurutnya, sarkasme yang semula tajam dapat berubah menjadi banal, kehilangan daya gugat, dan bergeser menjadi hiburan massal.

Ia menjelaskan, algoritma media sosial tidak membaca niat pembuat konten, melainkan menghitung interaksi. Semakin tinggi jumlah tayangan, komentar, dan pembagian ulang, semakin besar peluang suatu konten didistribusikan ke lebih banyak pengguna. Dalam konteks lagu MBG, tingginya engagement membuat lagu ini menyebar luas dan digunakan sebagai latar video hiburan, remix musik, hingga konten kreatif lintas usia.

Akibatnya, lagu yang muncul dari ruang kritik publik justru berubah menjadi eksposur positif bagi Bahlil. Fajar menilai, fenomena ini memperlihatkan ironi komunikasi digital: kritik yang direproduksi secara berlebihan berpotensi kehilangan makna dan malah menciptakan efek sebaliknya, yakni meningkatkan popularitas pihak yang menjadi sasaran.

Menurut Fajar, dalam ekosistem media sosial batas antara kritik, hiburan, dan promosi kian kabur karena semuanya diproses melalui logika algoritma yang sama. Hal ini membuat komunikasi politik di era digital tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pembuat pesan, melainkan turut dipengaruhi pola konsumsi publik yang kemudian diperkuat oleh sistem distribusi platform.

Ia juga menyoroti respons Bahlil dan Partai Golkar yang memilih menanggapi fenomena tersebut dengan santai, alih-alih defensif. Sikap itu dinilai efektif karena tidak membuka ruang eskalasi kritik baru. Dengan merangkul meme dan candaan, citra yang terbentuk justru lebih dekat, santai, dan mudah diterima publik. Dalam pandangan Fajar, situasi ini menjadi contoh bagaimana candaan atau sindiran di ruang digital dapat berubah menjadi aset komunikasi politik tanpa harus melalui kampanye langsung.