Sorong—Meningkatnya arus informasi di media sosial menuntut kehati-hatian lebih dari setiap individu, terutama kreator konten dan pengguna aktif platform digital. Dalam situasi penyebaran informasi yang cepat, satu kesalahan kecil dapat berdampak luas bagi masyarakat.
Kesadaran untuk memverifikasi informasi sebelum dibagikan disampaikan konten kreator asal Sorong, Adi Phaloe, dalam perbincangan bertajuk “Update Informasi Lewat Konten” di Pro2 RRI Sorong, Rabu, 4 Februari 2026. Ia menegaskan, penyebaran informasi palsu atau hoaks bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat membawa konsekuensi serius bagi pihak yang menyebarkannya.
Adi menilai rasa malu semestinya muncul ketika seseorang tanpa sadar membagikan informasi yang tidak benar. Karena itu, setiap informasi yang diterima perlu ditelusuri kebenarannya terlebih dahulu sebelum disebarluaskan. Menurutnya, memastikan validitas informasi merupakan bentuk tanggung jawab moral, mengingat dampak hoaks dapat memicu kesalahpahaman, keresahan sosial, hingga persoalan hukum.
Pernyataan tersebut sejalan dengan imbauan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia yang mendorong masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi digital. Kementerian menegaskan hoaks berpotensi mengancam persatuan dan ketertiban sosial, sehingga budaya cek fakta diperlukan sebelum membagikan konten apa pun.

